Fantasi Sedarah Dalam Keluargaku ( Bagian 2 )

x
0

Permintaan Mbak Rina bahwa ia ingin kusetubuhi lagi setelah persetubuhanku dengan Mbak Lidya ini selesai, adalah permintaan yang harus kukabulkan. Dan itu berarti bahwa aku harus berusaha sekuat tenaga agar jangan ngecrot di dalam memek Mbak Lidya.

Tapi memek Mbak Lidya ini… sangat aduhai… terlalu enak buatku. Bahkan mungkin memek Mbak Lidya ini menempati peringkat pertama di antara perempuan - perempuan yang pernah kuentot…! Liang tempik Mbak Lidya ini paling enak di antara memek - memek yang pernah kuentot…!

Ketika aku sedang gencar - gencarnya mengentot Mbak Lidya, aku tahu bahwa Mbak Lidya sudah orgasme beberapa saatg sebelumnya. Seharusnya cepat kucabut kontolku dari memek Mbak Lidya, lalu pindah ke memek Mbak Rina.

Tapi aku sudah telanjur menghayati betapa nikmatnya liang memek Mbak Lidya ini. Sehingga kontolku tetap gencar mengentot memek Mbak Lidya yang aduhai ini. Dan pura - pura tidak tahu bahwa Mbak Lidya sudah orgasme.

Justru setelagh orgasme, liang memek Mbak Lidya jadi semakin enak rasanya. Masih tetap sempit, tapi jadi licin dan hangat. Sementara Mbak Lidya pun tampak seperti kerasukan, mungkin saking enjoy merasakan nikmatnya entotan kontolku.

“Entot terussss Booon… makin lama makin enak rasanyaaaa… entottt yang lebih kencang Boon… iyaaaa… iyaaaa… gila… luar biasa enaknya Booon… entooottttt… entooooootttt… entoooooootttttt… aaaaaaaa… aaaaah… enaaaak Booon… kontolmu memang luar biasa enaknyaaaa…

Aku tak sekadar memainkan kontolku yang bermaju mundur terus di dalam liang memek Mbak Lidya. Bibir dan lidahku pun ikut beraksi. Terkadang mencium dan melumat bibir Mbak Lidya, terkadang menjilati lehernya yang sudah dibasahi keringat, disertai dengan gigitan - gigitan kecil.

“Sekalian cupangin leherku Booon… ini nikmat sekali… nikmaaat… “erang Mbak Lidya sambil mendekap pinggangku erat - erat.

Kuikuti saja permintaan kakakku itu. Kusedot - sedot lehernya sekuatku. Sehingga meninggalkan bekas merah kehitaman.

Takut kalau bekas cupanganku jadi masalah, karena besok Mbak Lidya akan menghadiri acara wisudaku, aku hanya berani meninggalkan bekas satu titik saja di leher Mbak Lidya. Kemudian aku mengalihkan aksi mulutku ke toket Mbak Lidya yang masih kencang padat ini. Di badan toket itulah aku mencupanginya.

Namun semua ini terlalu indah bagiku dan juga bagi Mbak Lidya.

Pada suatu saat Mbak Lidya berkelojotan lagi. Kemudian mengejang tegang, dengan perut sedikit terangkat ke atas.

Pada saat itu pula aku tak bisa menahan diri lagi. Kugencarkan entotanku secepat mungkin, kemudian kutancapkan kontolku di dalam liang memek Mbak Lidya, sampai menyundul dasar liang memek aduhai itu.

Lalu kami seperti sedang kerasukan. Saling jambak, saling remas seolah - olah ingin menghancurkan tulang di balik daging dan kulit yang kami remas ini.

Sepasang mata indah Mbak Lidya terbeliak. Nafasnya tertahan. Lalu liang memeknya terasa mengedut - ngedut kencang… disusul dengan gerakan seperti spiral yang seolah tengah meremas kontolku yang sedang gawat juga ini.

Tak kuasa lagi aku menahannya. Moncong kontolku langsung menembak - nembakkan lendir kenikmatanku di dalam liang memek Mbak Lidya… croooooooootttttttt… crootttttt… crooootttt… crotttcrootttt… crooootttt…!

Aku terkapar di atas perut Mbak Lidya. Lalu terkulai lunglai di puncak kepuasan birahi.

Mbak Lidya pun terkulai lunglai. Memejamkan sepasang mata indahnya, mungkin sedang meresapi nikmat yang baru saja dialaminya.

Meski lemas, kutarik kontolku dari liang memek Mbak Lidya. Lagi - lagi kusaksikan genangan darah yang sudah mulai mengering di bawah memek Mbak Lidya.

Dua orang perawan telah kurenggut kesuciannya. Atas kehendak mereka sendiri.

Aku pun turun dari bed menuju kamar mandi. Ternyata Mbak Rina mengikuti langkahku dan ikut masuk ke dalam kamar mandi.

“Kontolmu sudah lemas ya Bon,” ucap Mbak Rina sambil memegang kontolku yang masih berlepotan air mani bercampur dengan lendir libido Mbak Lidya.

“Iya Mbak,” sahutku dengan perasaan kasihan juga, karena mungkin dia pikir aku bisa langsung menyetubuhinya setelah selesai dengan Mbak Lidya barusan. Lalu kupeluk leher Mbak Rina sambil berkata, “Sabar ya Mbak. Nanti setelah ngaceng lagi, pasti Mbak yang bakal kuentot.”

“Barusan kontolmu ejakulasi di dalam memek Lidya?”

“Iya. Gak kuat lagi menahannya.”

Mbak Rina mencium bibirku, lalu berkata setengah berbisik, “Aku juga pengen ngerasain disemprot oleh air manimu Bon.”

“Iya Mbak.”

“Bagaimana nih caranya supaya kontolmu bisa ngaceng lagi?”

“Kalau Mbak mau, oral aja kontolku.”

“Bukan gak mau, tapi belum tau caranya.”

“Sebentar Mbak… aku mau kencing dulu.”

“Aku pengen seperti di bokep yang pernah kutonton. Kencingin memekku nih,” ucap Mbak Rina sambil meletakkan kedua telapak tangannya di bokong, sekaligus mengangsurkan memeknya ke dekat kontolku.

Ah, ada - ada aja kakakku yang satu ini. Tapi tanpa membantah kulakukan juga apa yang diminta olehnya itu. Kuarahkan moncong kontolku ke memek Mbak Rina. Lalu kupancarkan kencingku ke memek berbulu tipis dan pendek - pendek itu.

“Hihihiiii… air kencingmu panas,” kata Mbak Rina sambil menepuk - nepuk memeknya yang sudah basah oleh air kencingku, “Kita sekalian mandi aja yuk. Biar bisa saling menyabuni seperti waktu masih anak - anak dahulu. ““

“Boleh. Biar aku bisa nyabunin memek Mbak, sementara Mbak juga bisa nyabunin kontolku.”

Mbak Rina memegang kontolku yang masihlemas ini sambil berkata, “Waktu masih kecil aku sering nyabunin kontolmu ini. Tapi pada saat itu kontolmu hanya sebesar kelingking. Sekarang kontolmu jadi segede pergelangan tanganku… hihihihiiii…”

“Memek Mbak juga waktu itu belum ada jembutnya. Sekarang kan jadi berjembut.”

“Kamu gak suka kalau aku membiarkan jembutku meski sudah dirapikan gini?”

“Aku sih yang berjembut suka, yang gundul juga suka. Sama aja. Punya kelebihan masing - masing,” sahutku sambil memutar keran shower air hangat.

Air pun memancar dari shower yang berada di atas kepala kami. Memang aku pun merasa perlu mandi, karena badanku penuh dengan keringat bekas “perjuangan” belah duren dua kali tadi.

Lalu kami pun melakukan hal yang sering kami lakukan di masa kecil, yaitu saling mnyabuni. Tapi dengan bentuk fisik dan perasaan yang jauh berbeda. Ketika Mbak Rina sedang menyabuniku, ketika sedang menyabuni kontolku ia berjongkok. Lalu belajar tentang bagaimana caranya felatio (mengoral kontol). Sehingga kontolku mulai membesar…

Ketika giliranku menyabuni sekujur tubuh Mbak Rina, maka setelah dibilas dengan air hangat shower, aku berjongkok di depannya, untuk menjilati memeknya yang sudah bersih dan harum sabun mandi.

“Duuuh Booon… aku jadi horny berat nih,” ucap Mbak Rina setelah cukup lama aku menjilati memek dan itilnya.

“Di sana aja yuk…” ucapku sambil menunjuk ke meja washtafel yang bisa diduduki pinggirnya. Meja washtafel yang ditutupi granit coklat itu.

Mbak Rina langsung setuju saja. Ia melangkah duluan ke meja washtafel itu. Kemudian kuatur agar ia duduk di meja washtafel itu, dengan sepasang kaki mengangkang di pinggirannya.

Lalu dengan perjuangan yang lumayan berat, akhirnya aku berhasil membenamkan kontolku, sambil berdiri menghadap kakakku yang sedang duduk mengangkang di pinggiran meja washtafel itu.

Ketika aku mulai mengentotnya, Mbak Rina memegang sepasang bahuku. Sambil berdesah - desah lagi.

Tiba - tiba terdengar suara Mbak Lidya di belakangku, “Pantesan hilang… rupanya lagi begituan lagi di sini yaaa?”

Mbak Rina yang menyahut, “Kalau mau joint, mandi dulu sana Lid. Biar bersih dan segar badanmu.”

“Iya Mbak… badanku udah lengket - lengket sama keringat nih. Asyik juga dientot di dalam kamar mandi ya? Bikin aku jadi horny lagi neh… !”

Setelah Mbak Lidya selesai mandi, kami sepakat untuk melanjutkan semuanya ini di luar kamar mandi. Tepatnya di atas sebuah sofa putih.

Di situlah kami habis - habisan melakukannya. Melakukan persetubuhan threesome FFM, yang membuat keringat kami bercucuran kembali.

Namun kami sangat bergairah melakukannya, terutama diriku.

Ya, aku tak usah munafik, bahwa semuanya ini indah sekali. Sebagai pengalaman pertamaku berthreesome.

Nikmat sekali. Karena dengan seenaknya aku bisa mengentot Mbak Rina, lalu kupindahkan kontolku ke dalam liang memek Mbak Lidya. Benamkan lagi ke dalam liang memek Mbak Rina dan begitu seterusnya.

Lewat tengah malam barulah kami tertidur nyenyak.

Dan keesokan harinya aku bisa menghadiri wisudaku secara normal, meski badanku terasa lunglai.

Yang paling menyenangkan adalah, aku lulus dengan cumlaude. Membuat kedua kakakku ikut bangga.

Sepulangnya dari gedung yang digunakan untuk upacara wisuda itu, kutraktir kedua kakakku makan di sebuah restoran yang paling kusukai di Tugu Kidul.

Pada saat sedang makan itulah handphoneku berdering. Ketika kulihat di layar ponselku, ternyata Mbak Artini yang nelepon.

Agar leluasa, aku menerima call dari Mbak Artini itu di tempat yang sepi, agak jauh dari kedua kakakku. Lalu :

“Ya Mbak…”

“Maaf kalau mengganggu ya. Acara wisudanya udah selesai belum?”

“Sudah selesai Mbak. Ini lagi makan siang bersama kedua kakakku.”

“Aduh gimana ya… jadi kurang enak nyampaikannya.”

“Ada apa Mbak?”

“Barusan ada telepon dari Mbak Lies. Dia ingin Bona datang hari ini juga ke tempatnya. Karena dia sudah cukup lama menunggu. Jadi kalau serius, dia minta hari ini juga Bona datang ke rumahnya.”

“Diantar sama Mbak kan?”

“Tentu aja.”

“Pakai motor aja ya Mbak.”

“Memang sebaiknya pakai motor. Kalau pakai mobil, jalannya jadi mutar jauh.”

“Oke Mbak. Selesai makan siang, aku akan secepatnya pulang.”

“Terus kedua kakakmu gimana tuh?”

“Biarin aja. Mudah - mudahan mereka mengerti. Karena ini kan masalah pekerjaan yang menentukan masa depanku.”

“Ya syukurlah kalau gitu. Aku mau dandan dulu sambil menunggu Bona pulang.”

“Iya Mbak, silakan.”

Kemudian aku menghampiri kedua kakakku yang sudah selesai makan.

“Aku harus ke luar kota sekarang juga, “laporku.

“Lho ada urusan apa?” tanya Mbak Lidya.

“Urusan pekerjaan. Calon bossku minta ketemu hari ini juga.”

“Apa gak bisa besok lagi? Kamu kan masih capek gitu Bon,” kata Mbak Rina.

“Kalau hari ini aku tidak datang, aku bakal dicoret dari daftar pelamar. Calon bossku sudah menunggu sejak berbulan - bulan yang lalu. Dia akan menempatkanku di perusahaannya setelah diwisuda. Rupanya beliau gak sabar lagi, karena sudah lama menunggu, sejak aku belum bikin skripsi.”

“Ya udah,” kata Mbak Rina, “Karena menyangkut masa depanmu, dahulukan aja urusan kerjamu.”

“Terus kamu mau langsung tinggal di luar kota?” tanya Mbak Lidya.

“Belum tau Mbak. Siapa tau aku bakal ditempatkan di Jabar, bisa dekat nanti sama Mbak Rina dan Mbak Lidya.”

“Ya udah kalau gitu. Makanan ini biar aku yang bayar,” kata Mbak Rina.

“Sudah dibayar sama aku tadi Mbak. Mmm… Mbak Rina dan Mbak Lidya bisa pulang sendiri ke hotel kan?”

“Bisa dong. Kita kan lahir besar di Jogja. Masa gak hafal jalan di sini?”

Begitulah. Akhirnya aku berpisah dengan Mbak Rina dan Mbak Lidya.

Aku pulang ke rumah kos dengan taksi, sementara Mbak Rina dan Mbak Lidya entah mau terus ke mana. Mungkin juga mereka pulang ke hotel, untuk beristirahat setelah kugauli habis - habisan tadi malam.

Mbak Artini menyambutku dengan pelukan dan ciuman mesranya. “Selamat ya atas sudah diwisudanya kekasihku tersayang…” bisiknya.

“Terima kasih Mbak. Ternyata Mbak sudah dandan secantik ini…” sahutku sambil menepuk bokong Mbak Artini yang gede itu, yang selalu mengundang gairahku belakangan ini.

“Aku berdandan untukmu Sayang. Bukan untuk orang lain.”

“Tapi kalau aku ditempatkan di daerah yang jauh dari Jogja gimana? Kita bisa sulit berjumpa dong.”

“Tapi kan ada hari - hari liburnya. Biarin aku yang datang nanti, setelah ditentukan di mana tempat untuk ketemuannya. Ayo kita langsung berangkat aja. Biar hati Mbak Lies tenang.”

“Tanah kakak Mbak itu luas?”

“Bukan luas lagi. Di Jateng, Jabar dan Jatim juga ada. Almarhum suaminya kan tuan tanah.”

“Owh… jadi dia itu janda?”

“Iya. Sama seperti aku. Tapi nasibnya sangat baik. Menikah dengan duda tajir melintir yang sangat mencintainya, meski usianya sudah tua. Setelah suaminya meninggal, tanahnya yang di sana - sini itu jadi milik Mbak Lies.”

“Umur berapa Bu Lies itu?”

“Sepuluh tahun lebih tua dariku.”

“Kok jauh gitu ya beda kakak sama adik?”

“Dia kan kakak sulungku. Dari dia ke aku ada dua orang kakakku.”

“Dari Mbak ke bawah, ada adik?”

“Ada, cuma seorang. Sekarang tinggal di Kalimantan, dengan suaminya. Saudara - saudaraku perempuan semua Bon. Ohya… bawa sekalian pakaianmu Sayang. Siapa tau Mbak Lies nyuruh kamu langsung tinggal di tempatnya.”

“Iya Mbak. Kebetulan aku sjudah menyimpan beberapa stel pakaian dalam ranselku.”

Beberapa saat kemudian Mbak Artini yang mengenakan celana jeans dan baju kaus ditutupi oleh mantel tebal, sudah duduk di belakangku, di atas motor gede kesayanganku yang sudah kupacu menuju ke luar kota. Di atas boncengan motor gedeku ini, Mbak Artini selalu mendekap pinggangku erat - erat, seolah takut jatuh, seolah tak mau berpisah lagi denganku.

Dengan petunjuk dari Mbak Artini, kukemudikan motorku melewati jalan alternatif yang belum diaspal. Tapi menurut Mbak Artini, lewat jalan tikus itulah kami akan cepat sampai. Karena kalau melewati jalan aspal, memutarnya jauh sekali.

Lewat jalan alternatif itu pun, setelah melewati hutan belantara dan pesawahan, tiga jam kami baru tiba di depan rumah calon bossku itu.

Di depan rumah calon bossku itu aku tertegun. Gila, rumah ini di daerah pedesaan. Tapi megahnya luar biasa. Terdiri dari tiga lantai, dengan gaya minimalis.

Memang di zaman sekarang segala hal bisa menyebar sampai ke daerah terpencil sekali pun. Baik budaya, mode, mau pun segala hal yang sedang ngetrend di kota, bisa dengan cepat mengalir ke daerah pinggiran. Terbukti dengan gadis - gadis yang tinggal di kampung ini, kelihatan sudah mengikuti mode zaman now.

Dan rumah calon bossku itu, bukan sekadar besar dan megah, tapi modelnya pun sudah mengikuti perkembangan zaman now. Model minimalis yang tampak sangat kokoh. Dijaga oleh beberapa orang satpam pula.

Pada saat itu kebetulan pintu garasi sedang terbuka, sehingga aku bisa melihat beberapa mobil mahal tersimpan di dalam garasi itu. Bukan hanya satu mobil.

Mbak Artini langsung membawaku ke dalam rumah yang luar biasa megahnya itu.

Lalu memintaku untuk duduk menunggu di ruang tamu dengan furniture serba kekinian ini.

Tak lama kemudian, Mbak Artini muncul, bersama seorang wanita yang usianya kira - kira sebaya dengan Mama. Dan… maaaak… wanita itu tinggi montok… lebih montok daripada Mbak Artini…!

Tapi kuakui bahwa wanita itu berparas cantik, berkulit putih bersih pula. Sementara rambutnya… inilah salah satu tanda bahwa segala jenis model sudah merambah ke pelosok tanah air. Ya, rambut Bu Lies itu dicat jadi kecoklatan (brunette). Tapi beliau tampak pantas saja kelihatannya. Mungkin pada suatu saat aku pun akan menyuruh Mama agar mengecat rambutnya seperti Bu Lies ini.

Wanita itu menatapku dengan sorot tajam, seperti sedang menilai diriku. Tapi aku bersikap biasa - biasa saja. Aku berdiri sambil mengangguk sopan.

“Ini Mbak Lies yang sering kuceritakan itu Bon.”

Dengan agak gugup aku berkata, “Iya… perkenankan saya memperkenalkan diri… nama…”

Belum selesai aku bicara, calon bossku itu memotong, “Namamu Bona kan?”

“Hehe… betul Bu,” sahutku sambil menjabat tangan wanita montok semok itu.

“Jadi gimana wisudanya tadi? Tinggi nilainya?” tanya wanita bernama Lies itu sambil duduk di sofa.

“Alhamdulillah, saya lulus dengan cumlaude Bu,” sahutku.

“Syukurlah. Aku memang butuh insinyur pertanian yang cerdas. Bukan sekadar asal lulus,” ucap Bu Lies.

“Iya Bu.”

Lalu Bu Lies menjelaskan tentang arah agro bisnisnya secara panjang lebar. Dia bukan sekadar tuan tanah biasa, tapi juga bergerak di bidang agro bisnis. Dia menampung sayur - sayuran dan buah - buahan untuk dikirim ke Jakarta.

Tapi tugas utamaku adalah mengelola lahan yang tidak produktif, agar jadi lahan yang menghasilkan.

“Besok pagi deh kita survey lahan - lahan yang tidak produktif itu. Sekarang sudah hampir malam. Ohya… kamar paling depan itu bisa dijadikan kamarmu Bon,” kata Bu Lies.

“Tapi aku mau langsung pulang ke Jogja lagi sekarang Mbak,” ucap Mbak Artini menyela.

Bu Lies menoleh ke arah adiknya, “Minta anter aja sama Pak Karto tuh. Bona takkan bisa ngantger kamu pulang kan?”

“Iya, gakpapa. Minta anter sama Pak Karto aja,” sahut Mbak Artini.

“Kemaren aku transfer ke rekening tabunganmu. Udah diterima kan?”

“Sudah Mbak. Terima kasih ya mbakyuku yang cantik,” sahut Mbak Artini sambil mengecup pipi Bu Lies.

Kemudian Mbak Artini berdiri dan melangkah ke pintu depan. Kulihat di luar ia berbicara dengan seorang lelaki tua. Mungkin itu sopirnya Bu Lies yang bernama Karto itu.

Sesaat berikutnya Mbak Artini kembali ke ruang tamu dan berkata padaku, “Gak apa - apa kan ditinggal sendirian di sini? Aku mau pulang ke Jogja.”

“Iya Mbak. Silakan.”

Mbak Artini menghampiri Bu Lies sambil berkata, “Aku pulang dulu ya Mbak.”

“Iya. Terima kasih sudahnganterin Bona ke sini Ar.”

“Sama - sama Mbak,” sahut Mbak Artini yang lalu cipika - cipiki dengan Bu Lies.

“Jaga diri baik - baik ya Ar,” ucap Bu Lies sambil mengusap - usap rambut Mbak Artini.

Kemudian Mbak Artini melambaikan tangannya ke arahku, “Kalau lagi libur, main ke Jogja ya Bon.”

“Iya Mbak.”

Setelah Mbak Artini berlalu, diantarkan oleh mobil dan sopir Bu Lies, aku masih duduk di ruang tamu sambil menunggu Bu Lies yang masih berdiri di teras depan. Sebenarnya aku ingin mengantarkan Mbak Artini sampai di teras depan. Tapi aku takut kalau hubungan rahasiaku dengan Mbak Artini tercium oleh Bu Lies.

Tak lama kemudian Bu Lies masuk lagi ke ruang tamu sambil berkata, “Ini kamar yang bisa dijadikan kamarmu Bon. Coba ikut sini.”

Spontan aku berdiri sambil menjinjing ranselku, mengikuti Bu Lies yang sudah membuka pintu yang paling depan di rumah megah ini.

Ternyata kamar yang disediakan untukku besar sekali. Ada ruang kerja yang dibatasi oleh partisi kaca blur, ada kamar mandi tersendiri pula.

Yang membuatku agak heran, ada pintu lift segala. Untuk apa lift menuju kamar ini?

Sebelum aku bertanya, Bu Lies menjelaskan: “Nah inilah kamarmu Bon. Ada ruang kerjanya yang dilengkapi oleh komputer dan jaringan internet. Karena kita harus memantau kegiatan di lapangan, baik yang di Jateng, Jabar, Jatim dan juga kegiatan di Jakarta.”

“Iya Bu.”

“Ohya, itu ada pintu lift, langsung menuju kamarku di lantai tiga. Jadi kalau aku mau turun atau naik dan sedang malas pakai tangga, aku pakai lift itu. Nanti kalau kegiatanmu sudah banyak, kalau sekali - sekali ada sesuatu yang emergency, kamu boleh pakai lift itu dan langsung menuju kamarku. Kamu juga jangan kaget kalau tiba - tiba aku muncul di kamar ini.

“Siap Bu.”

“Masalah tugas - tugas dan gajimu, nanti aja kita bahas sambil makan malam ya.”

“Siap Bu.”

“Sekarang mandilah dulu. Peralatan mandi tersedia lengkap di kamar mandi itu. Nanti kalau sudah mandi, kutunggu di ruang makan ya Bon.”

“Iya Bu. Memang badan saya penuh debu bekas di perjalanan menuju ke sini tadi. Jadi perlu mandi dulu. Hehehee…”

“Mandilah. Selesai mandi ditunggu di ruang makan ya Bon.”

“Siap Bu.”

Bu Lies keluar dari kamar yang sudah menjadi kamarku ini. Aku pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

Aku memang lupa membawa peralatan mandi, handuk pun tidak bawa. Tapi untunglah semua peralatan mandi tersedia di kamar mandi, semuanya masih baru. Handuk, sabun cair, shampoo, odol dan sikat gigi masih baru semua.

Aku pun buru - buru mandi sebersih mungkin.

Setelah mandi dan mengganti pakaianku dengan pakaian bersih yang kubekal dari rumah kos, aku pun keluar dari kamar. Agak celingukan, karena banyak lorong, sehingga aku tidak tahu harus ke mana untuk menuju ruang makan.

Untung ada pembantu menghampiriku. Langsung kutanya, “Ruang makan di sebelah mana Mbak?”

“Oh… ke sebelah sana Den,” sahutnya sambikl menunjuk ke arah lorong yang di paling kanan.

Aku pun melangkah ke lorong yang ditunjukkan itu.

Sampai mentok di ruang makan yang besar ruangannya, serba modern pula furniture dan peralatannya.

Rupanya Bu Lies sengaja ingin ditemani makan malam di ruang makan yang super mewah itu.

Pada saat makan itu pula Bu Lies membahas tugas - tugasku dan juga besarnya gaji yang akan kuterima. Nominal gaji yang akan kuterima sangat mengejutkan. Karena menurutku besar sekali. Tapi dengan tenang Bu Lies berkata, “Pokoknya nanti jangan terlalu hitungan dengan tenaga dan pikiran. Karena aku pun tak menghitung - hitung gaji dan penghasilan tambahan untukmu nanti Bon.

“Siap Bu.”

“Pokoknya kalau prestasi kerjamu bagus, aku akan mengangkatmu sebagai tangan kananku.”

“Siap Bu.”

“Jangan terlalu kaku lah. Gak usah manggil boss padaku, jangan pula bilang siap - siap. Karena kita bukan militer, polisi juga bukan. Kamu juga gak usah membahasakan diri saya - sayaan. Larena kata saya itu berasal dari sahaya alias budak. Hamba sahaya itu kan budak. Kamu bukan budak. Pakai kata aku saja, biar lebih akrab kedengarannya ya.

“Siap… eh… iya Bu.”

“Nah sekarang istirahatlah sepuasnya. Karena besok pagi kita akan berjalan menaiki beberapa bukit kepunyaanku.”

“Iya Bu. Terima kasih,” sahutku sambil berdiri, “Selamat malam.”

“Malam,” sahut Bu Lies.

Keesokan paginya, ketika matahari baru saja terbit, Bu Lies sudah menungguku di luar kamarku. Sengaja aku mengenakan sweater biru tuaku, karena kuperkirakan udara di puncak bukit itu bakal dingin. Yang membuatku heran, Bu Lies menutupi seluruh badannya dengan selimut yang tidak tebal.

“Nah bagus kamu pakai sweater begitu. Di puncak bukit itu dingin hawanya.”

“Ibu pakai selimut begitu supaya gak kedinginan?”

“Iya. Kalau udaranya gak dingin, selimutnya bisa dipakai buat duduk - duduk di puncak bukit nanti.”

“Kita mau jalan kaki ke bukit itu Bu?”

“Iya. Itu bukitnya, dari sini juga kelihatan jelas,” kata Bu Lies sambil menunjuk ke bukit yang menjulang tinggi di belakang rumahnya.

“Oh, iya… iyaaa… kirain jauh,” sahutku sambil mengikuti Bu Lies yang sudah melangkah ke belakang rumah megahnya.

“Ini sekalian olahraga Bon,” kata Bu Lies di depanku, “Apalagi badanku montok begini. Kalau malas olahraga bisa gendut dan obesitas nanti.”

“Iya Bu.”

Lewat jalan setapak kami mulai menuju bukit itu. Tampaknya luas dan tinggi sekali bukit itu. Tapi dengan senang hati aku mengikuti langkah Bu Lies dari belakangnya.

Setelah tiba di lereng bukit itu, jalan yang harus kami tempuh makin lama makin menanjak. Tapi Bu Lies tidak kelihatan capek. Bahkan pada suatu saat ia melemparkan selimutnya padaku sambil berkata, “Tolong pegangin aja selimutnya Bon. Kayaknya udara sedang tidak terlalu dingin.”

Kutangkap selimut itu. Kulipat dan lalu kugantungkan di bahuku, seperti sedang memakai selendang.

Tapi ketika perhatianku tertuju ke arah Bu Lies… wow… Bu Lies memang memakai sweater juga seperti aku. Tapi bawahannya itu… rok mini yang benar - benar mini… sementara aku berjalan di belakangnya di jalan setapak yang mendaki pula. Ini membuat pemandangan yang luar biasa. Karena terkadang rok mininya itu ditiup angin, sehingga bokong gedenya terbuka penuh, celana dalamnya pun kelihatan jelas.

“Bon… kamu tau Artini pernah dijodohkan dengan seorang cowok, tapi ternyata cowok itu gay?”

“Iiii… iya Bu. Beliau pernah menceritakan soal itu.”

“Kasian adikku itu. STatusnya janda. Padahal masih perawan.”

“Begitu ya Bu?”

“Kamu normal Bon?”

“Maksud Ibu normal apanya?”

“Suka sama cewek, bukan sama sejenis?”

“Owh… iya Bu. Saya… eh… aku normal seratus persen Bu.”

Tiba - tiba Bu Lies mengangkat rok mininya, sehingga bokong dan celana dalamnya terbuka sepenuhnya. “Ayo jawab yang jujur. Kalau melihat pantat begini, kamu nafsu gak?”

“Iii… Ibu sangat seksi… tentu saja aku tergiur Bu… tapi maaf, aku takut disebut lancang dan kurang ajar nanti.”

“Kamu punya pacar nggak?”

“Nggak punya Bu.”

“Masa cowok seganteng kamu gak punya pacar? Jangan - jangan kamu gay juga ya?”

“Amit - amit, aku normal Bu. Hanya saja aku ingin menyelesaikan kuliah dulu, baru kemudian mikirin soal cewek.”

“Masa sih? Terus kamu bisa tergiur melihat pantatku… kok bisa? Aku kan sudah tua. Sedangkan kamu baru duapuluhtiga menuju duapuluhempat tahun kan?”

“Anu Bu… boleh jujur gak?”

“Iya. Harus jujur ngomongnya.”

“Aku ini pengagum wanita setengah baya.”

“Terus… sekarang kontolmu ngaceng nggak?” tanya Bu Lies sambil menghentikan langkahnya.

“Iiii… iya Bu… nga… ngaceng.”

“Coba lihat… sengaceng apa kontolmu.”

Meski ragu - ragu, kulaksanakan juga perintah Bu Lies itu. Kuturunkan ritsleting celana jeansku, lalu kupelorotkan celana jeans berikut celana dalamku, sehingga kontol ngacengku tersembul seperti sedang menunjuk ke arah Bu Lies.

“Woooow! Kontolmu segede dan sepanjang ini Bon?! “seru Bu Lies sambil memegang kontolku yang memang sudah ngaceng ini.

Aku tak menyangka semuanya ini akan terjadi begini cepatnya. Tapi aku tetap menggunakan akal sehatku. Kalau bossku menginginkannya, tiada alasan bagiku untuk menolaknya. Lagipula Bu Lies memang seksi habis di mataku.

Selimut itu sudah dihamparkan di atas rerumputan liar di antara pepohonan yang mirip hutan tak terawat ini. Aku disuruh berlutut dengan dada agak rebah ke belakang. “Tak usah telanjang bulat. Dengan begini pun kita bisa melakukannya. Hitung - hitung test aja, apakah kamu lelaki sejati atau sebangsa mantan suami Artini…

Lalu Bu Lies berjongkok sambil menyeret celana dalamnya ke samping. Dia membelakangiku, sehingga kurang jelas seperti apa bentuk memeknya. Yang jelas, sambil berjongkok dia berhasil membenamkan kontolku ke dalam liang tempiknya. Lalu bokong gede itu naik turun dengan gesitnya, sehingga kontolku terasa dibesot - besot oleh liang licin yang empuk dan hangat.

“Tempikku kepenak mboten?” tanyanya.

“Saestu kepenak Buuu…” sahutku sambil memejamkan mata, karena memang terasa liang tempik Bu Lies itu luar biasa enaknya.

“Ini sekadar tes aja Bon. Kalau kurang puas, nanti lanjutkan di rumah aja ya.”

“Iii… iya Bu.”

“Uedaaan… kontolmu ini gede tenan Bon. Sampai seret gini mainnya.”

“Mungkin karena punya Ibu terlalu kecil, jadi sempit…”

“Hihihihiiii… ini luar biasa enaknya Bon…” ucap Bu Lies ketika ayunan bokongnya mulai menggila. Terkadang kudengar suara desahannya yang aaah oooh… aaah… ooooh…

Sebenarnya ada yang kutakutkan. Takut ada orang lewat lalu memergoki kami sedang beginian.

Untungnya Bu Lies tak kuat lama - lama. Hanya belasan menit dia mengayun bokongnya. Lalu menggelepar dan ambruk.

“Wah, duweku sampun metu Bon. Kamu belum kan?”

“Belum Bu.”

“Nanti lanjutin di rumah ya,” ucap Bu Lies sambil mengangkat bokongnya tinggi - tinggi, sehingga kontolku pun terlepas dari liang memeknya yang seperti apa bentuknya. Belum jelas. Baru bentuk buah pantat gedenya saja yang jelas di mataku.

Bu Lies membetulkan celana dalamnya yang terseret ke samping. Kemudian duduk di atas selimut yang dihamparkan itu.

Aku pun membetulkan letak celana dalam dan celana jeansku, lalu duduk di samping Bu Lies. “Tau gak, kenapa aku gelis metu mau?”

“Kenapa Bu?”

“Karena sejak suamiku meninggal, baru sekarang aku merasakan lagi enaknya kontol. Apalagi sekalinya ketemu kontol yang panjang gede gitu. Ya cepet keluarlah aku.”

“Iya Bu.”

Kemudian kami membicarakan masalah lahan di bukit dan sekitarnya itu. Memang tampak seperti hutan yang tidak terurus. Dan Bu Lies memasrahkan padaku untuk mengelola bukit itu menjadi lahan yang produktif. Jangan sekadar ditumbuhi oleh pohon kayu murahan dan rumput liar belaka.

Aku menyanggupinya. Untuk mengubah bukit dan lahan di sekitar lerengnya, tanpa mengganggu eko system agar tidak terjadi erosi.

Setelah membahas masalah pendayagunaan lahan tidak produktif itu, kami pun pulang lagi.

Di jalan menuju pulang, masih sempat Bu Lies berkata, “Nanti setelah makan malamn, kuncikan dulu pintu kamarmu. Kemudian naik lift ke lantai tiga ya.”

“Iya Bu.”

“Kamu akan menjadi orang kesayanganku Bon. Kamu sudah siap kusayangi sebagai kekasih tercintaku?”

“Siap Bu.”

“Apakah aku cukup memenuhi syarat untuk dijadikan kekasihmu?”

“Sangat memenuhi syarat. Ibu bukan hanya cantik tapi juga seksi. Kebetulan aku memang pengagum wanita setengah baya pula. Jadi… heheheee… kalau Ibu berkenan, dijadikan suami Ibu pun aku mau.”

“Gak usah jauh - jauh dulu mikirnya. Biar bagaimana aku juga tau diri. Usia kita terlalu jauh bedanya. Yang penting kamu bisa selalu memuasi hasrat birahiku, sudah cukup bagiku.”

“Jadi kita menjalin hubungan rahasia aja Bu?”

“Iya. Kata orang hubungan gelap justru lebih nikmat daripada hubungan suami - istri.”

“Hehehee… iya Bu. Hmmm… gak nyangka bintangku bakal bersinar terang di kampung ini Bu.”

“Nanti malam kuat berapa set main sama aku?”

“Mmm… mungkin sampai tiga atau empat kali bisa Bu.”

“Hihihihi… kebayang tempikku bakal keenakan kalau sering dientot sama kontol panjang gedemu Bon.”

“Iya Bu. Aku juga bakal merem melek kalau sering maen sama Ibu. Heheheee…”

“Tapi ingat Bon… kita harus bermain rapi. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan di luaran.”

“Iya Bu.”

“Kamu tidak perlu terlalu fokus pada diriku. Kalau ada cewek yang cocok dengan seleramu, silakan aja mainkan. Yang penting aku tetap dapet jatah minimal tiga kali seminggu.”

“Heheheee… iya Bu… iyaaa…”

“Ohya, kamu bisa nyetir mobil?”

“Bisa Bu.”

“Punya SIM?”

“Punya Bu. SIM C punya, SIM A juga punya.”

“Baguslah kalau begitu. Kapan - kapan kita tour ke daerah wisata yang indah - indah, kamu yang nyetir mobilku ya.”

“Iya Bu. Aku siap nyetir ke mana aja. Mau ke Jabar atau Jatim juga aku sanggup Bu.”

“Baguslah. Soalnya… entah kenapa ya… begitu ketemu sama kamu, aku langsung punya perasaan sayang padamu Bon.”

“Terima kasih Bu. Aku akan berusaha takkan pernah mengecewakan Ibu dalam hal apa pun.”

“Ingat ya… nanti setelah makan malam masuk ke dalam kamarmu. Tutup dan kunci pintu kamarmu. Kemudian pakai lift naik ke lantai tiga, itu langsung ke dalam kamarku.”

“Iya Bu.”

Beberapa saat kemudian kami tiba di rumah megah itu. Bu Lies masuk lewat pintu belakang, sementara aku masuk lewat pintu depan, kemudian masuk ke dalam kamarku.

Memang agak letih juga sehabis jalan kaki naik dan turun dari bukit itu. Tapi aku menyempatkan diri untuk duduk di belakang meja kerjaku, menyalakan komputer dan meneliti line perusahaan Bu Lies. Tentu saja dengan password yang sudah diberikan oleh Bu Lies, sehingga aku bisa membuka situs punya perusahaan Bu Lies.

Dari lalu lintas keuangannya aku mulai bisa menilai betapa besarnya omzet agro bisnis punya Bu Lies itu. Kelak harus aku yang memeriksa dan mengatur semuanya ini.

Dengan kata lain, usaha Bu Lies itu bukan main - main. Meski beliau tinggal di pedesaan begini, omzet harian perusahaannya sudah milyaran. Bukan hitungan juta lagi.

Tiba - tiba terdengar bunyi ketukan di pintu kamarku. Lalu aku membuka pintu itu. Seorang pembantu membungkuk sopan sambil berkata, “Ibu sudah menunggu di ruang makan, untuk makan siang Den.”

“Oh iya. Terima kasih,” sahutku sambil menutupkan pintu dan melangkah menuju ruang makan.

Di ruang makan Bu Lies sudah menungguku. Senyumnya tampak ceria ketika aku sudah menghampirinya di ruang makan yang segalanya serba mewah itu.

Kemudian aku duduk berhadapan dengan Bu Lies, terbatas oleh meja makan.

“Kepada semua pembantu di sini, aku sudah bilang bahwa Bona itu tangan kananku. Orang kepercayaanku. Makanya mereka pasti takut - takut kalau sudah berhadapan denganmu.”

“Iya Bu. Aku memang sudah siap untuk menjadi tangan kanan Ibu,” sahutku.

“Nggak sia - sia aku menunggu kedatanganmu selama berbulan - bulan. Karena ternyata kamu adalah orang yang kuinginkan dalam segala hal, termasuk dalam masalah pribadiku.”

“Iya Bu. Terima kasih atas kepercayaan Ibu padaku. Semoga aku bisa menjaga kepercayaan Ibu sampai kapan pun.”

“Ohya… kamu harus bisa merencanakan gebrakan baru dalam agro bisnis kita Bon. Jangan sekadar mengandalkan yang sudah berjalan saja.”

“Iya Bu. Maaf… apakah Ibu punya izin impor buah - buahan?”

“Oh… belum punya Bon. Kamju bisa mengurus izinnya kan? Memang bagus tuh. Masayarakat perkotaan kan lebih suka makan buah impor. Boleh direncanakan dan dilaksanakan soal impor itu Bon. Senang aku mendengar idemu itu.”

“Iya Bu. Kita bisa sebar buah - buahan impor itu ke setiap kotabesar di Indonesia.”

“Iya, iya iyaaa… kamu sudah mengobarkan semangat baru di hatiku Bon.”

Kemudian kami makan siang bersama. Sambil makan pun aku mengungkapkan beberapa rencana bisnis yang semuanya disetujui oleh Bu Lies. Namun aku tak bisa mengungkapkan jenis bisnisnya secara mendetail, karena termasuk rahasia perusahaan. Yang jelas, semuanya bisnis legal. Bukan bisnis abu - abu, apalagi bisnis hitam.

Menunggu datangnya malam terasa lama sekali. Padahal aku sudah ingin sekali menggemuli tubuh tinggi montok wanita setengah baya itu.

Namun akhirnya tiba juga saatnya selesai makan malam. Kemudian aku masuk ke dalam kamarku. Menutupkan dan mengunci pintu kamar. Mengganti pakaianku dengan baju dan celana piyama. Berkaca sebentar di depan cermin besar yang tergantung di dinding. Kemudian dengan hanya mengenakan sandal jepit, kupijat tombol lift dan masuk ke dalamnya.

Lift pun melesat ke lantai tiga. Ternyata benar. Pintu lift itu langsung menghubungkanku ke kamar Bu Lies.

Bu Lies yang sudah mengenakan kimono sutera putih, menyhambutku dengan senyum hangat. Memegang kedua pergelangan tanganku sambil berkata, “Kita turunkan dulu isi perut sehabis makan malam barusan ya.”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Harum parfum mahal pun mulai tersiar ke penciumanku. Kemudian tanganku diraih, agar duduk berdampingan di atas sofa putih bersih. Ya… kamar Bu Lies ini serba putih bersih. Lagi - lagi aku menemukan bukti, bahwa orang yang tinggal di pedesaan belum tentu suka warna - warni yang norak.

Namun semuanya tidak kuperhatikan lagi setelah Bu Lies memegang tanganku sambil berkata, “Tadi di puncak bukit kamu ora iso ndelok tempikku toh? Nah sekarang lihatlah sepuasmu. Mau diapain juga silakan.”

Bu Lies merentangkan kedua sisi kimono putihnya sehingga aku bisa menyaksikan dengan jelas. Bahwa Bu Lies tidak mengenakan apa - apa lagi di balik kimono putih itu. Sehingga sepasang toket gedenya terbuka penuh. Memeknya pun tampak jelas di mataku. Tembem dan bersih dari jembut, mirip memek Mbak Artini…

Nafsu birahiku langsung bergejolak. Dan langsung bersila di atas karpet, di antara kedua kaki Bu Lies yang putih mulus… sambil mendekatkan wajahku ke memek tembem dan bersih dari jembut, yang tampak seperti sedang tersenyum malu - malu itu…!

Tanpa ragu lagi kuciumi tempik alias memek alias heunceut alias pepek alias puki alias ketut Bu Lies itu…!

Bu Lies malah mengusap - usap rambutku sambil berkata, “Mau dijilatin juga boleh. Jilatinlah tempikku sepuasmu Bon.”


Bicara begitu Bu Lies sambil memajukan letak bokongnya, sehingga tempik bersih dan tembem itu mendekati mulutku. Maka tanpa basa - basi lagi kungangakan mulut tempik Bu Lies dengan kedua tanganku. Sehingga bagian yang berwarna pink itu terbuka lebar. Bagian itulah yang lalu kujilati dengan lahap. Harum parfum mahal pun semakin tersiar ke penciumanku.

Mungkin sekujur tubuh Bu Lies selalu diharumkan oleh parfum itu. Sehingga tempiknya pun menyiarkan harumnya parfum mahal itu. Ini membuatku semakin bergairah untuk menjilati bagian yang berwarna pink itu. Sementara jempol kiriku mulai menggesek - gesek itilnya yang tampak menonjol “mancung”.

“Booon… oooo… oooohhhh… Booooon… aku makin sayang sama kamu Boooon… sayang sekali Booon… ooooohhhhhh… ooooohhhhh… aku sayang kamu Booon… sayaaaang kaaamuuuu… oooo… oooooooohhhhh… Booonaaaaa… “desahan dan rintihan Bu Lies mulai berhamburan dari mulutnya.

Bahkan beberapa saat kemudian Bu Lies seperti tak kuasa lagi menahan nafsunya. Ia mengusap - usap rambutku sambil berkata terengah, “Suuu… suuudah Booon… ayo kita lanjutkan di bed aja… biar nyaman… udah Booon… aku udah horny berat niiih…”

Kuikuti saja keinginan Bu Lies. Kujauhkan mulutku dari tempiknya, lalu bangkit berdiri dan mengikuti langkah Bu Lies menuju bednya yang serba putih bersih itu.

Di dekat bed itu Bu Lies menanggalkan kimononya. Aku pun cepat menanggalkan baju dan celana piyamakiu. Dan langsung telanjang, karena sengaja aku tidak mengenakan celana dalam sebelum naik ke lantai tiga ini.

Kemudian aku merayap ke atas perut Bu Lies sambil memegangi kontolku yang sudah ngaceng berat ini. Bu Lies pun ikut memegangi leher kontolku dan mencolek - colekkan moncongnya ke mulut tempiknya yang sudah basah oleh air liurku. Kemjudian ia mengedipkan matanya sebagai isyarat agar aku mendorong kontol ngacengku.

Maka kudesakkan kontolku sekuat tenaga. Dan membenam sedikit demi sedikit ke dalam liang memek Bu Lies… blessssssss… hmmmm… tadi di puncak bukit itu aku tidak begitu merasakan nikmatnya bersetubuh dengan majikanku yang bertubuh tinggi montok dengan bokong dan toket serba gede ini. Tapi sekarang aku benar - benar merasakan enaknya ketika kontolku sudah terbenam seluruhnya ke dalam liang tempik Bu Lies.

Bu Lies pun mengerang histeris, “Sudah masuuuuk semuaaaaa Booon… ooooh… kontolmu memang gede dan panjang banget. Ini sampai mentok di dasar liang tempikku Booon…”

Aku pun mulai mengayun kontolku perlahan - lahan. Dan terasa sekali legitnya liang memek Bu Lies ini. Sehingga aku pun berkata terengah, “Ta… tadi waktu di bukit… belum terasa enaknya tempik Ibu ini. Ta… tapi sekarang terasa benar… memek Ibu sangat legit… pasti bakal bikin aku ketagihan kelak…

“Kapan pun kamu mau ngentoit aku, tinggal naik aja ke lantai tiga ini. Kecuali kalau aku lagi datang bulan, pasti harus istirahat dulu,” sahut Bu Lies sambil merangkul leherku ke dalam pelukannya. Kemudian menciumi bibirku dengan lahapnya. Disusul dengan bisikan, “Ayoooo… entotlah aku sepuasmu Bona Sayaaaang …

Tanpa banyak bicara lagi, kupercepat gerakan kontolku, bermaju mundur di dalam liang memek yang terasa licin tapi legit ini.

Bu Lies pun mulai merintih - rintih histeris, “Aaaaa… aaaaaaah… Booonaaaa… aaaaaah… kontolmu memang luar biasa enaknya Booon… iyaaaaa… iyaaaaa… entot teruuussss booon… entoootttt teruuuusssss… iyaaaa… iyaaaaa… entooootttttttt… entoooooooootttttt… sambil emut pentil tetekku Booon…

Kiyaaaaa… luar biasa enaknya kontolmu ini Booon… aku sudah dua kali menikah… tapi baru sekali ini merasakan enaknya dientooootttt… aaaaa… aaaaaaah… Boooonaaaaa… Booonnnaaaaaa… enaaaak sekali Booon… entoooottttt… entoooottttttt… iyaaaaaaaaa… entoooottttt …

Dalam keadaan seperti ini, aku mulai menyadari salah satu kelebihan perempuan berbokong gede. Ketika aku mulai gencar mengentot Bu Lies, biji pelerku sama sekali tidak menyentuh kain seprai. Hanya terombang - ambing di depan memek Bu Lies saja. Ini karena saking gedenya pantat Bu Lies, sehingga pada waktu menelentang, memeknya berada kurang lebih sejengkal dari kain seprai.

Sementara itu aku pun teringat ucapan para pakar seksuologi. Bahwa dalam hubungan sex itu harus ada “take and give” (menerima dan memberi). Jadi kaum lelaki pun jangan hanya ingin merasakan enaknya saja memek pasangannya, tapi juga harus berusaha memberi kenikmatan pada pasangannya itu.

Itulah sebabnya, ketika sedang gencar - gencarnya mengentot tempik Bu Lies, aku pun bukan hanya mengemut dan meremas toket gedenya. Aku pun berusaha “menyempurnakan”nya dengan jilatan - jilatan lahap di lehernya, disertai dengan gigitan - gigitan kecil.

Karuan saja Bu Lies jadi merem melek dibuatnya. Bahkan pada suatu saat jilatanku beralih ke ketiaknya yang tercium harum parfum juga. Maka rintihan - rintihan Bu Lies pun semakin menjadi - jadi dibuatnya, “Booonnnaaaa… oooo… oooooh… Boooon… kamu sangat pandai membuatku keenakaaaaan… iyaaaaaa…

Iyaaaa… entot terus Booon… kontolmu luar biasa enaknya Booonaaaa… entooot teruuuussss… entoooott… sambil jilatin dan gigit - gigit ketekku juga Booon… aaaaaah… ini luar biasa enaknyaaaaaa… luar biaaasaaaaaa… entooot teruuuussss… entoooottttt… entoooottttt… Boooonaaaaaa…

Aku sengaja ingin memperlihatkan keperkasaanku, supaya Bu Lies ketagihan, ingin dientot terus olehku kelak.

Sudah dua kali Bu Lies orgasme. Tapi kontolku masih tangguh. Masih memompa liang memek legitnya Bu Lies.

Padahal keringatku mulai membasahi tubuhku. Keringat Bu Lies juga sama, tampak membasahi tubuhnya di sana - sini.

Sampai pada suatu saat, Bu Lies berkelojotan sambil mengerang, “Aku mau lepas lagi Bon… bisa dibarengin nggak?”

“Mudah - mudahan bisa Bu,” sahutku sambil mempercepat entotanku. Sambil menyedot - nyedot pentil toket gedenya.

Dan Bu Lies mulai berkelojotan… kemudian mengejang tegang dengan perut agak terangkat ke atas.

Pada saat itulah aku pun menancapkan kontolku di dalam liang memek Bu Lies. Moncong kontolku sampai menabrak dan mentok di dasar liang tempik wanita setengah baya itu. Lalu liang sanggama Bu Lies terasa berkedut - kedut kencang, diikuti dengan gerakan spontan yang seperti spiral… laksana meremas dan memilin kontolku yang tengah meletuskan lendir kenikmatanku.

Crooot… cooootttt… crooooootttt…

Crooooootttttt… crooooooooottttt… crooootttt…!

Aku menggelepar, lalu terkulai di atas perut Bu Lies.

Bu Lies pun terkulai. Namun sesaat kemudian dia mencium bibirku dengan lahapnya, disusul dengan bisikannya di dekat telingaku, “Terima kasih ya Sayang. Kamu telah memberikan sesuatu yang sangat berarti bagiku. Ini takkan kulupakan sampai kapan pun.”

“Ibu juga telah memberikan sesuatu yang sangat berarti bagiku. Punya panjenengan luar biasa enaknya,” sahutku.

Kemudian kucabut kontolku dari dalam liang tempik Bu Lies.

Bu Lies pun duduk, lalu turun dari bed, “Ayo kalau mau bersih - bersih di kamar mandi, “ajaknya.

Aku pun mengikuti langkah Bu Lies masuk ke dalam kamar mandi pribadinya.

Begitu berada di dalam kamar mandi, Bu Lies langsung duduk di atas kloset. Dan aku berjongkok di depan kloset itu.

“Heh… mau apa kamu malah jongkok di situ Bon?” tanya Bu Lies.

“Pengen liat punya Ibu seperti apa kalau sedang kencing… hehehee…”

“Hihihiiii… ada - ada aja. Iya liatin deh. Sekalian cebokin setelah aku kencing ntar ya.”

“Iya Bu. Mau kok aku nyebokin Ibu.”

“Mau nyebokin apa mau megang - megang tempikku?”

“Hehehee… mau dua - duanya Bu,” sahutku sambil menarik shower dan siap - siap untuk menceboki Bu Lies.

Lalu terdengar bunyi kencing Bu Lies di dalam kloset. Sweerrrr… kecewesssss kecewessss …

Aku pun langsung mendekatkan shower ke tempik Bu Lies, sementara tangan satunya lagi siap untuk menceboki memek bu boss.

“Baru sekali ini aku ngalami dicebokin sama orang lain. Bona… Bona… kamu mulai jadi tangan kananku luar dalam.”

“Iya. Ibu juga mulai jadi atasan luar dalam.”

Bu Lies bangkit dari kloset, sementara aku justru baru mulai kencing. Kemudian kubasuh kontolku yang masih berlepotan lendir. Pada saat itulah Bu Lies memelukku dari belakang. Sambil berbisik, “Masih kuat main berapa kali lagi?”

“Mungkin tiga kali lagi juga masih kuat Bu. Soalnya p;unya Ibu luar biasa legitnya.”

“Hihihiiii… begitu ya?”

“Iya Bu. Luar biasa enaknya.”


Bu Lies menjawab dengan bisikan di dekat telingaku, “Kontolmu juga luar biasa enaknya Sayang.”

Kemudian kami keluar dari kamar mandi, menuju bed kembali. Di situlah Bu Lies meremas - remas kontolku dengan lembut sambil berkata, “Kalau anak muda sih dipegang dan diremas - remas begini juga pasti bisa tegang lagi. Naaaah… sudah ngaceng lagi nih Bon.”

“Iya… mau dilanjutkan Bu?” tanyaku.

“Ayooo… ganti posisi ya. Sekarang main posisi doggy. “Bu Lies menungging di atas bed, sambil menepuk - nepuk bokong gedenya.

Dan… begitulah. Kami bersetubuh lagi dalam posisi doggy.

Tak cuma itu. Setelah malam makin larut, kami bersetubuh lagi untuk ketiga kalinya. Kali ini main posisi WOT. Bu Lies main di atas, aku main di bawah.

Dan aku seolah ingin memperlihatkan keperkasaanku, agar Bu Lies merasa sangat membutuhkanku untuk pemuas nafsu birahinya.

Menjelang subuh, aku menyetubuhi Bu Lies lagi untuk keempat kalinya. Kali ini kembali ke posisi missionary. Aku di atas, Bu Lies di bawah.

Hari demi hari kulalui dengan penuh gairah. Bukan sekadar gairah kerja, tapi juga gairah sex. Karena hari - hari yang kulewati selalu ditemani oleh sex.

Bu Lies pun semakin baik padaku. Transfer demi transfer mengalir ke buku rekening tabunganku. Kalau dihitung secara kasar, saldo rekening tabunganku sudah bisa dipakai untuk membeli mobil baru. Tapi untuk apa beli mobil? Bukankah keenam mobil mahal Bu Lies yang tersimpan di garasi bisa kupakai kapan dan ke mana saja?

Pada suatu hari…

Ketika aku sedang berdiri di halaman rumah Bu Lies, sambil mengamati lucunya ikan - ikan koi berenang di kolam hias, seorang wanita setengah baya bergaun batik tampak menghampiriku, diantarkan oleh seorang satpam.

Setelah dekat dan jelas, aku terkejut karena wanita bergaun batik itu adalah Mama…!

“Bona…! “seru Mama sambil merentangkan kedua tangannya.

“Mama…! “aku pun menghambur ke dalam pelukannya.

Kami cipika - cipiki sambil berpelukan.

Lalu Mama kubawa masuk, langsung ke dalam kamarku.

“Barusan pakai apa Mama ke sini?” tanyaku setelah mengajak Mama duduk berdampingan di atas sofa yang tak jauh dari bedku.

“Pakai ojek. Dari Subang sih pakai Bus. Turun di Solo. Dari Solo pakai ojek ke sini.”

“Capek sekali dong Mama,” ucapku sambil meremas - remas tangan Mama.

“Memang capek sekali Sayang. Tapi karena ada sesuatu yang sangat penting, mama lupain rasa capeknya. Mama ini sedang hamil Sayang.”

“Hamil? Sudah berapa bulan hamilnya?”

“Baru tiga bulan. Belum kelihatan gede ya perut mama?”

“Belum”

“Kamu maskih ingat kan waktu mama ke Jogja dan memadu birahi sama kamu itu tiga bulan yang lalu kan?”

“Ja… jadi… yang di dalam perut Mama itu anakku?”

“Ya iyalah. Anak siapa lagi?”

“Terus kalau ketahuan sama Papa gimana?”

“Mama sudah cerai sama Papa. Vonis di pengadilan baru diputuskan seminggu yang lalu. Jadi… biarin aja Papa tau mama hamil juga gak apa - apa. Karena mama bukan istri dia lagi. Ohya… rumah bossmu ini megah sekali Bon. Kayak istana aja ini sih.”

“Iya Mam. Kebetulan majikanku sangat baik padaku. Dan…”

Belum selesai aku bicara, tiba - tiba terdengar suara Bu Lies di ambang pintu yang tidak kututupkan, “Ada tamu Bon?”

Mama menoleh ke arah Bu Lies yang masih berdiri di ambang pintu. Lalu Mama berseru, “Ini Lies?!”

Bu Lies menghampiri Mama. Dan terbelalak sambil berseru, “Maryani?!”

“Iya Lies… ya Tuhaaan… kita bisa berjumpa lagi setelah lebih dari duapuluh tahun berpisah yaaa?”

“Yani… Yani… gak nyangka kita bisa berjumpa lagi…” ucap Bu Lies sambil mengajak Mama duduk berdampingan di sofa, sementara aku cuma berdiri heran dan bingung. Karena tak mengira kalau Bu Lies kenal sama Mama.

“Syukurlah kamu sekarang sudah sukses begini Lies… kamu majikannya Bona kan?”

“Iya,” sahut Bu Lies, “Panjang ceritanya Yan. Waktu itu aku nekad jadi TKW di Hongkong. Gak taunya aku ditaksir sama orang Indonesia yang sukses di Hongkong. Dia duda aku janda, ya kawinlah kami di Hongkong. Suamiku itu luar biasa tajirnya. Dia dianggap big boss di Hongkong juga. Tapi usianya sudah tua.

Setelah sepuluh tahun kami hidup bersama di Hongkong, akhirnya suamiku mengajak pulang ke Indonesia. Maklum usianya mulai tergolong udzur. Gak taunya setelah berada di tanah air dia jadi sakit - sakitan. Dan akhirnya meninggal sekitar lima tahun yang lalu. Almarhum menitipkan surat wasiat pada penasehat hukumnya.

“Jadi sekarang kamu melanjutkan usaha yang sudah dirintis oleh almarhum suamimu?” tanya Mama.

“Iya. Kalau gak ada peninggalan almarhum, bagaimana bisa aku seperti sekarang ini.”

“Punya anak berapa dari almarhum suamimu itu?”

“Nggak punya. Dia yang mandul Yan. Ohya… bagaimana dengan Fajar? Apakah dia sehat - sehat aja?”

Mama berdiri dan menghampiriku. Lalu memegang bahuku sambil berkata, “Ini Fajar Lies…”

“Haaa? Bona ini Fajar?!” Bu Lies tampak kaget sekali.

“Iya. Ini Fajar… anak kandungmu Lies,” kata Mama yang lalu menoleh padaku sambil berkata, “Bersujudlah di kaki ibu kandungmu Sayang…”

“Ja… jadi?” cetusku bingung dan kaget.

“Bu Lies ini adalah ibu kandungmu Sayang. Waktu kamu masih kecil sekali, hidupnya sengsara sekali. Lalu dia nekad untuk menjadi TKW di Hongkong. Dan kamu diberikan pada mama dengan perjanjian bahwa dia takkan mengganggu gugat dirimu di kemudian hari. Tapi sekarang keadaan ibumu sudah berubah jadi orang sukses.

Aku manjut saja pada suruhan Mama. Lalu berlutut di depan Bu Lies yang ternyata ibu kandungku itu. Kemudian kuciumi kakinya sambil bercucuran air mata. Karena aku sangat sedih menghadapi kenyataan ini. Bagaimana tidak, wanita yang terus - terusan kusetubuhi itu ternyata ibu kandungku…!

Secara gamblang Bu Lies yang ternyata ibu kandungku itu menceritakan asal - usulku yang sebenarnya. Bahwa ayahku bukan lelaki yang bertanggung jawab. Ketika Bu Lies hamil tua, malah minggat dengan seorang cewek muda belia. Dahulu Bu Lies dan Mama tetangga dekat dan masih sama - sama tinggal di Jogja.

Karena itu Bu Lies menyandarkan hidup kepada Mama. Saat itu Mama memang bukan orang tajir, tapi kehidupannya jauh lebih baik daripada Bu Lies. Maka terjadilah perjanjian, bahwa kalau bayinya sudah lahir akan diberikan kepada Mama. Tapi biaya melahirkan dan makan sehari - hari Bu Lies ditanggung oleh Mama.

Lalu lahirlah bayi itu yang lalu diberi nama Fajar oleh Bu Lies. Mama senang sekali karena belum punya anak laki - laki, Mama meminta agar Fajar tetap disusui oleh Bu Lies. Sementara diam - diam Bu Lies mendaftarkan diri untuk menjadi TKW di Hongkong, yang kata orang - orang gede gajinya itu. Bu Lies pun terbang ke Hongkong yang dibiayai oleh yayasan yang biasa merekrut para TKW untuk bekerja di luar negeri.

Setelah setahun tinggal di Hongkong, Bu Lies berjumpa dengan seorang pengusaha asal Indonesia yang sudah sukses di Hongkong. Kebetulan pengusaha asal Indonesia itu baru ditinggal mati oleh istrinya.

Kebetulan pula Bu Lies di masa mudanya memang cantik. Pengusaha tajir melilit itu pun jatuh cinta kepada Bu Lies.

Tanpa memandang usia yang berbeda jauh, Bu Lies pun menerima lamaran pengusaha itu. Lalu mereka menikah di Hongkong. Dan tetap tinggal di sana dengan status yang berbeda. Bu Lies bukan TKW lagi, melainkan sudah jadi istri seorang pengusaha besar.

Sepuluh tahun kemudian, suami Bu Lies mengajak pulang ke Indonesia, karena usianya sudah tua sekali dan tidak sanggup mengembangkan usahanya lagi di Hongkong. Katakanlah dia sudah ingin pensiun dari dunia bisnis. Namun simpanannya di bank sangat banyak. Tanahnya pun di pulau Jawa banyak. Ada yang di Jabar, Jateng dan Jatim.

Setelah berada di tanah air, suami Bu Lies yang sudah tua renta itu pun jadi sering sakit. Dan akhirnya meninggal dunia lima tahun yang lalu. Atas dasar surat wasiat yang ditinggalkan oleh almarhum suami Bu Lies, semua harta dan simpanannya di bank diwariskan kepada Bu Lies semua.

“Begitulah ceritanya,” kata Bu Lies di akhir penuturannya, “Memang setelah berada di tanah air, aku sering ingat pada anakku. Tapi aku ingin jadi orang yang teguh pada perjanjian. Karena pada saat aku memberikan dirimu kepada wanita baik yang jadi Mama angkatmu ini aku sudah menandatangani perjanjian.

Bu Lies yang ternyata ibu kandungku itu menbghela nafas panjang. Lalu melanjutkan, “Untungnya wanita yang kamu panggil Mama ini bijaksana orangnya. Kalau tadi dia tutup mulut, aku takkan menyangka kalau Fajar itu kamu Bon. Aku sangat menghargai kebijaksanaan mamamu ini. Sehingga aku bisa ditertemukan dengan satu - satunya anak kandungku, yakni kamu Bona.

Mama menjawab lirih, “Aku sangat menyayangi Bona laksana sayangnya ibu kepada anak kandungnya. Tapi hubungan darah di antara kalian berdua tak boleh diputuskan begitu saja. Jadi begini saja… Bona tetap manggil Mama padaku, lalu kepada Lies mungkin bagusnya manggil Mamie, supaya tidak tertukar - tukar ya.

“Iya… iyaaa… aku setuju itu,” sahut Bu Lies yang mulai saat ini harus kupanggil Mamie itu.

“Jadi Bona tetap boleh menganggapku mamanya, tapi dia juga haruis menerima bahwa Lies itu mamie kandungnya. Tentang di mana Bona mau tinggal, bebas sajalah. Mau ke rumahku di Subang… pintu rumahku tetap terbuka sampai kapan pun buat Bona. Mau tinggal di sini apalagi, karena dia punya pekerjaan pula di sini kan?

Mamie memegang bahuku sambil bertanya lembut, “Keinginan Bona sendiri bagaimana?”

Spontan kujawab, “Pokoknya aku sayang keduanya, baik kepada Mama mau pun kepada Mamie. Malah semakin menyenangkan karena mulai saat ini aku jadi punya ibu dua orang. Heheheee…”

“Iya… kami berdua sayang kamu Bon,” kata Mamie alias Bu Lies, “Ohya… sekarang Yani mau nginep di sini kan?” Mamie menatap ke arah Mama.

“Sayang sekali… sekarang sih aku gak bisa nginap Lies. Kapan - kapan deh aku sengaja nginap di sini, biar kita bisa ngobrol panjang lebar.”

“Memangnya ke Subang mau naek apa?” tanya Mamie.

“Dari Solo ada bus yang lewat Subang Lies.”

“Mmmm… begini aja,” kata Mamie, “Sekarang anterin Mama ke Subang, ya Bon.”

“Iya Bu, eh Mamie,” sahutku.

“Waduh… dari sini ke Subang itu jauh sekali Lies.”

“Nggak apa - apa. Yang penting Bonanya sanggup kan?” Mamie menoleh padaku.

“Sanggup Mamie.”

“Sebentar… aku mau ngomong dulu sama Bona ya Yan,” kata Mamie.

“Silakan,” sahut Mama.

Lalu Mamie memijat tombol lift sambil memegang pergelangan tanganku. Pintu lift terbuka, aku dan Mamie masuk ke dalamnya. Kemudian lift itu bergerak ke lantai tiga.

Di kamarnya Mamie memegang kedua tanganku sambil berkata, “Ternyata kita ini ibu dan anak kandung Sayang.”

“Iya Mam. Aku kaget sekali mendengar semuanya ini. Sedangkan kita sudah melangkah begitu jauh. Bagaimana ke depannya nanti?”

Mamie ma;lah mencium bibirku. Lalu berkata setengah berbisik, “Takdir juga yang membuat kita harus seperti ini. Biarin aja. Kita lanjutkan aja hubungan rahasia kita. Kamu masih mau melanjutkannya nggak?”

“Mau Mam. Sudah telanjur jauh sih.”

“Bagus. Mamie juga udah telanjur jatuh cinta padamu Sayang. Biarlah kita lanjutkan aja. Tapi awas… Mama jangan sampai tau ya.”

“Iya Mamie.”

“Sekarang antarkan dulu Mama pulang gih. Mumpung masih siang. Pilihlah mobil mana yang mau kamu pakai. Ingat… sekarang semua yang kumiliki adalah milikmu juga, karena kamu satu - satunya anak kandungku.”

“Iya Mam. Tapi Mamie masih bisa hamil kan?”

“Bisalah. Selama belum menopause, berarti perewmpuan itu masih bisa hamil.”

“Lalu kalau Mamie hamil olehku nanti gimana?”

“Justru itu yang mau kubicarakan denganmu. Tapi besok aja setelah kamu pulang dari Subang, kita bicarakan lagi semuanya secara matang yaaa. Mmm… Bona… Bona… ternyata kamu ini anak kandungku… tapi aku telanjur jatuh cinta padamu mmmmmwuaaaaah… “Mamie mencium bibirku. Lalu mengeluarkan dua gepok uang seratusribuan dari brankas.

Diserahkannya uang itu padaku sambil berkata, “Yang seikat kasihkan sama Mama, yang seikat lagi untuk membeli pertamax dan makan di jalan.”

“Iya Mam. Terima kasih. Tapi Mam… masih ada yang kuinginkan,” kataku sambil menyingkapkan daster Mamie, “Pengen megang tempik Mamie dulu ah…”


Mamie melotot, tapi lalu menahan tawanya. Dan dibiarkannya saja kurayapkan tanganku kebvalik celana dalamnya, lalu mengelus - elus tempiknya sebentar.

Kemudian kukeluarkan lagi tanganku dari balik celana dalam Mamie. “Aku pamit dulu ya Mam,” ucapku setelah mencium bibir Mamie dengan kehangatanku.

“Iya… ati - ati di jalan ya Sayang. Gak usah ngebut.”

“Iya Mamie Sayang.”

Kemudian aku dan Mamie masuk ke dalam lift dan turun ke kamarku lagi, di mana Mama masih duduk di sofa kamarku.

“Ayo Mam… sekarang aja pulangnya mumpung masih siang?“tanyaku sambil menyerahkan seikat uang pemberian Mamie, “Ini dari Mamie,” kataku.

“Iiih banyak banget Lies?!”

“Ah ala kadarnya aja Yan. Mohon maaf gak disuguhin makan. Tapi Bona udah dikasih duit tuh buat makan di jalan.”

“Iya, terima kasih ya Lies. Kapan mau maen ke Subang? Aku udah bubar sama suamiku lho.”

“Ohya?! Kenapa?”

“Biasa penyakit laki - laki. Maen gila mulu sama cewek yang jauh lebih muda daripada aku.”

“Begitu ya?! Gak ada mendingnya. Aku pilih yang jauh lebih tua, biar udah kenyang maen perempuan. Tapi ya gitu… gak ditinggal maen gila sama cewek, tapi ditinggal mati Yan.”

“Gak apa - apa. Kita jalanin aja suratan takdir kita masing - masing.”

“Iya, iyaaaa… semoga perjalanannya lancar ya Yan.”

“Iya Lies. Aku pamit ya,” kata Mama sambil cipika - cipiki dengan Mamie.

Beberapa saat kemudian Mama sudah duduk di samping kiriku, dalam sedan Mamie yang sudah kujalankan menuju Solo, kemudian memutar menuju Jogja.

“Bagaimana perasaanmu sekarangf? Bingung atau gimana?” tanya Mama.

“Malah jadi plong. Karena Mama bukan ibu kandungku. Jadi aku bebas melakukan apa pun dengan Mama sekarang kan?”

“Iya. Hihihiiii… pikiranmu kok malah sama dengan pikiran mama.”

“Berarti Mama juga kangen entotanku lagi kan?”

“Iyaaa… lagi hamil gini mama malah pengen begituan mulu.”

“Kalau gitu kita cek in aja di Jogja… di hotel yang kita pakai dahulu itu Mam. Hitung - hitung nostalgia.”

“Iya. Hotel itu sangat bersejarah bagi kita ya.”

“Mmm… Mbak Weni, Mbak Rina dan Mbak Lidya pada tau gak kalau aku ini bukan anak kandung Mama?”

“Nggak ada yang tau. Kan waktu kamu mama terima dari Mamie, mereka masih kecil - kecil. Weni juga baru berumur tiga tahun. Belum ngerti apa - apa.”

“Kalau sudah terbuka gini, apakah mereka bakal dikasihtau atau nggak?”

“Kasihtau aja. Gak apa - apa. Toh hubunganmu dengan mereka bakal tetap baik.”

“Iya. Aku akan tetap menganggap mereka saudara - saudaraku,” sahutku dengan pikiran melayang - layang. Teringat apa yang sudah kulakukan dengan Mbak Weni, dengan Mbak Rina dan Mbak Lidya.

Sedan built up Jerman yang kukemudikan ini pun meluncur terus ke arah Jogjakarta.

Setibanya di hotel yang bersejarah bagiku dan bagi Mama, kami mendapatkan kamar paling belakang. Dan gairahku tak terkendalikan lagi. Mungkin karena aku sudah tahu bahwa Mama itu bukan ibu kandungku. Selain daripada itu Mama sedang hamkil, membuatku penuh kepenasaranan. Seperti apa memek wanita yang sedang hamil itu.

Mama pun tampaknya sudah kangen sekali padaku. Begitu masuk ke dalam kamar hotel, Mama merangkul leherku ke dalam pelukannya. Lalu mencium dan melumat bibirku dengan hangatnya.

Sambil menanggalkan gaun batiknya, Lalu Mama berkata, “Kamu mama urus sejak bayi dengan penuh kasihsayang Bon. Mama sayang sekali padamu, laksana sayangnya seorang ibu kepada anak kandungnya. Tapi sejak kita melakukan semuanya di dalam hotel ini, pandanganku padamu jadi berubah. Laksana memandang seorang pangeran yang datang untuk mengobati luka di hati mama.

“Aku juga sama Mam. Dan sekarang, setelah aku tau Mama bukan ibu kandungku, aku jadi semakin bergairah lagi… terlebvih - lebih setelah mendengar Mama sedang hamil… hihihiiiii… jadi gemes… ingin melihat dan merasakan memek wanita hamil…”

“Jadi biarkan aja janin di perutku ini tetap tumbuh dan membesar nanti?” tanya Mama sambil melepaskan beha dan celana dalamnya.

“Biarkan saja Mam. Biar nanti aku yang membiayai semuanya. Sekarang statusku kan sudah jelas, sebagai anak tunggal seorang wanita yang berada.”

“Nanti kalau Rina dan Lidya tau, gimana ya?”

“Biarin aja. Kalau perlu, kuhamili juga mereka nanti. Supaya tidak ada yang complain pada kehamilan Mama.”

“Hihihiiii… jadi rame dong rumah di Subang nanti. Ada tiga bayi lahir ke dunia. Memangnya kamu bisa memperlakukan mereka sekehendak hatimu?”

Sambil mengusap - usap perut Mama yang belum kelihatan buncit, aku menyahut, “Bisa Mam. Tapi tentu saja aku takkan sewenang - wenang pada Mbak Rina dan Mbak Lidya. Yang jelas, pada waktu aku diwisuda itu kan mereka datang ke sini.”

“Iya, memang mama yang nyuruh mereka datang untuk menghadiri wisudamu.”

“Nah… mereka ingin merasakan seperti apa rasanya bersetubuh itu. Lalu mereka menyerahkan keperawanan mereka padaku. Tapi jangan marahi mereka nanti ya Mam. Kalau Mama marahi mereka, bisa - bisa minggat mereka nanti dari rumah.”

“Owh… begitu? Mmmm… mama mau pura - pura tidak tau aja soal itu sih.”

“Itu lebih baik Mam. Tapi pada saat itu mereka sudah menyiapkan pil anti hamil segala. Makanya kalau aku mau menghamili mereka, aku akan melarang mereka memakai pil anti hamil lagi.”

“Menurut mama sih, ide menghamili mereka itu kurang tepat Bon. Kalau masalah mama hamil nanti, mama akan berusaha membuat mereka bisa menerima kenyataan ini. Bahwa mereka akan punya adik baru… anakmu ini,” kata Mama sambil mengusap - usap perutnya.

“Iya… makanya nanti Mama jelaskan saja, bahwa aku ini bukan anak Mama. Dan kita sengaja melakukan hubungan badan, sebagai balas dendam kepada Papa yang main gila terus,” ucapku sambil menggerayangi memek Mama yang selalu membangkitkan kerinduanku.

Aku mengangguk sambil menjauhkan tanganku dari memek Mama. Kemudian kutanggalkan seluruh benda yang melekat di tubuhku, sampai telanjang bulat seperti Mama.

Lalu aku naik ke atas bed di mana Mama sudah celentang sambil merenggangkan kedua belah pahanya. Tadinya aku ingin mulai dengan menjilati memeknya yang selalu menggiurkan itu… tembem dan agak ternganga, dengan jengger membuka ke luar pula.

Tapi Mama berkata, “Jangan pake jilat - jilatan memek segala. Ini udah basah sekali Sayang. Belakangan ini memek mama memang sering basah, sambil membayangkan dientot sama kamu lagi. Masukkan aja kontolmu langsung Bona Sayang…”

Mendengar ucapan Mama seperti itu, aku pun mengikuti keinginannya. Langsung aku tengkurap sambil mengarahkan moncong kontolku ke mulut tempik Mama. Dan… benar saja. Begitu kudorong kontolku, langsung masuk sekujurnya ke dalam liang memek Mama tercintaku.

“Tuh kan… langsung ambles semua…” ucap Mama sambil merengkuh leherku ke dalam pelukannya.

“Gak apa - apa perutku menghimpit perut Mama begini?”

“Nggak apa - apa. Masih kecil kok perutnya. Nanti kalau perut mama sudah buncit, tanganmu harus menahan agar perutmu tidak terlalu menghimpit perut mama. Ayo entotin kontolmu Sayang.”

Aku pun mulai mengentot seperti yang Mama inginkan. Memang becek liang memek Mama kali ini. Tapi hal ini justru membangkitkan gairahku untuk melampiaskan kekangenanku kepada Mama yang telah merawatku dari bayi hingga dewasa. Bahkan aku sendiri yang dikuliahkan sampai S1. Sementara anak - anak kandungnya sendiri (Mbak Rina dan Mbak Lidya) hanya memiliki ijazah D3.

Karena itu aku ingin sekali membalas kebaikan Mama itu dengan apa pun yang bisa kulakukan.

Mama pun tampak sangat enjoy dengan aksiku kali ini. Mulutku terus - terusan disumpal dengan lumatan hangatnya yang seolah ingin melekatklan bibirnya ke bibirku selama persetubuhan ini berlangsung.

“Bon… kenapa ya kali ini mama merasa lebih enak disetubuhi olehmu? Nih… niiiih… niiiih Booooon… ini mama udah mau lepas Boon… “desis Mama yang sedang merapatkan pipinya ke pipiku.

Lalu Mama berkelojotan. Entotanku pun sengaja kupercepat, untuk menanggapi situasi seperti ini.

“Booonaaaa… aaaaaa… “mulut Mama ternganga. Nafasnya tertahan. Sekujur tubuhnya mengejang. Perutnya agak terangkat. Dan kubiarkan kontolku menancap di dalam liang sanggama Mama. Liang yang lalu terasa berkedut - kedut kencang. Disusul dengan hembusan nafas Mama, “Aaaaaaaah… luar biasa nikmatnya Boooon…

Kutatap wajah cantik Mama yang tampak memancarkan sinarnya yang begitu cemerlang.

“Kok cepat sekali lepasnya Mam?” tanyaku sambil mengusap - usap dahi Mama yang keringatan.

Mama menyahut, “Karena Mama terlalu kangen padamu Sayang. Jadi… entotanmu terasa nikmat sekali. Makanya mama gak bisa bertahan lama. Jangan digerakkan dulu kontolmu ya. Mama ingin menghayati keindahan yang barusan mama rasakan.”

“Iya… santai aja Mam,” sahutku sambil memperhatikan handphoneku di atas meja kecil di samping bed yang tengah kupakai menyetubuhi ibu angkatku ini. Aku berusahamenjangkaunya. Dan berhasil.

Ternyata ada WA dari… Mbak Artini alias tanteku…!

Kubuka WAnya. Isinya singkat sekali*-Sayang… aku kangen sekali padamu Yang… -*

Aku tercenung sesaat. Lalu meletakkan hapeku di bawah bantal. Tanpa kubalas.

Padahal aku sedang berada di Jogja. Kalau aku mau, dalam tempo 15 menit pun aku sudah bisa tiba di rumah Tante Artini. Memang aku harus memprioritaskan wanita yang satu itu. Karena biar bagaimana, akulah yang telah merenggut keperawanannya.

Tapi dia itu adik kandung Mamie. Berarti dia itu tanteku sendiri.

Lalu apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menghentikan hubungan rahasiaku dengan ibu kos yang sudah begitu mencintaiku?

Tidak.

Secara moral aku harus menghentikan hubunganku dengannya. Tapi secara kemanusiaan, aku tak boleh mencampakkannya begitu saja. Aku harus berusaha untuk tetap membahagiakannya. Tapi bagaimana kalau Mamie tahu bahwa aku punya hubungan dengan Mbak Artini? Apakah Mamie takkan marah?

Akhirnya aku mengayun kembali kontolku dengan gerakan yang lumayan cepat. Dan berusaha untuk membuat Mama orgasme lagi. Lalu aku akan berpura - pura ejakulasi pada saat dia orgasme nanti. Agar dia mengira telah terjadi pencapaian puncak kenikmatan secara berbarengan. Kemudian aku akan berpura - puramau ke rumah temanku dulu karena ada urusan “penting”.

Booon… oooh… Boooon… ini sudha mulai enak lagi Saayaaaang… iyaaaa… iyaaaa. entot terus Booon… entot teruuuuussssss… ini luar biasa enaknyaaaaa… aaaaaah… aaaaa… aaaaah… “Mama merintih - rintih sambil berusaha menggoyangkan bokongnya… memutar - mutar dan meliuk - liuk.

Belasan menit semuanya ini berlangsung. Sehingga wajah dan leher Mama mulai mengkilap oleh keringatnya sendiri.

Sampai pada suatu saat, Mama menatapku sambil berkata terengah, “Sayang… ooooh… mama mau lepas lagi Sayaaaang…”

“Iya Mam… barengin ya… aku juga udah mau ngecrot…” ucapku berbohong. Padahal aku masih jauh dari ejakulasi.

Lalu kupercepat entotanku, sementara Mama sudah berkelojotan lagi. Dan akhirnya mengejang tegang. Pada saat yang sama kutancapkan kontolku sedalam mungkin.

Lalu ketika liang memek Mama berkedut - kedut kencang, aku pun mengejut - ngejutkan kontolku seolah sedang ejakulasi…!

Lalu… aku pura - pura terkulai lemas di atas perut Mama.

“Oooooh… indah sekali…” ucap Mama sambil menciumi bibirku, “Terima kasih ya Sayang.”

Tampaknya Mama tidak menyadari bahwa aku belum ejakulasi.

Lalu kucabut konmtolku dari liang memek Mama. Kemudian turun dari bed dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi sambil menjinjing pakaianku.

Di kamar mandi aku kencing. Lalu kucuci kontolku yang berlepotan lendir memek Mama.

Kemudian kukenakan semua pakaianku. Dan keluar dari kamar mandi.

Kulihat Mama masih terkapar celentang di atas bed. Aku pun mengambil hapku dari bawah bantal, sambil berkata, “Mama bisa ditinggal sebentar di sini? Aku ada urusan penting yang harus kuselesaikan di Jogja ini.”

“Iya, selesaikanlah urusanmu dulu Sayang. Mama malah ingin tidur dulu, karena masih terasa capek sekali,” sahut Mama sambil memeluk bantal guling. Dalam keadaan masih telanjang bulat.

Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam sedan punya Mamie, yang sudah kuluncurkan di jalan aspal. Menuju rumah Mbak Artini…!

Mbak Artini yang mengenakan daster berwarna pink, tampak sedang menyiram pot - pot tanaman hias yang berderet di teras depan. Dan terkejut ketika melihatku turun dari mobil di dekat teras itu.

“Bona?!” serunya dengan wajah ceria.

“Iya Tante. Sengaja WAnya tidak kubalas karena tadi aku sedang di jalan menuju ke sini.”

Lalu aku mengikuti Mbak Artini, melangkah masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu, Mbak Artini sudah tak kuasa menahan diri. Ia memeluk dan menciumi bibirku. “Aku kangen sekali padamu, Sayang.”

“Sama… aku juga kangen sekali. Hanya waktunya belum ada. Ini juga kebetulan sedang disuruh mengantarkan Mama ke Subang. Makanya kusuruh Mama istirahat dulu di hotel, karena aku ingin menjumpai kekasihku yang jelita dan seksi ini,” sahutku sambil memegang kedua tangan Mbak Artini.

Lalu kami duduk berdampingan di sofa ruang keluarga.

“Mbak sudah mendengar berita dari Bu Lies?”

“Berita apa? Belum ada berita apa - apa Sayang.”

“Ternyata Mbak Ar ini tanteku. Karena aku ini anak kandung Bu Lies yang sekarang harus dipanggil Mamie olehku.”

“Haaaa?! yang bener Sayang…”

“Betul Mbak. Tanyakan saja langsung pada beliau kalau gak percaya sih. Dahulu sebelum terbang ke Hongkong sebagai calon TKW, Mamie pernah memberikan bayi kepada Bu Maryani. Bayi itu sudah diberi nama Fajar. Nah… Fajar itu aku Mbak. Tapi sama Bu Maryani namaku diganti jadi Bona Perdana.”

“Ooooh… iyaaaa… iyaaaa…! Saat itu Mbak Lies masih sengsara hidupnya. Suaminya menghilang pula entah ke mana. Iya, iya… aku masih ingat benar masalah itu Bon.”

“Jadi Mbak ini sebenarnya tanteku. Tapi hal itu jangan dijadikan kendala hubungan di antara kita berdua. Hubungan kita harus jalan terus ya Mbak.”

“Iya sih… oooh… ini bnenar - benar mengejutkan Bon. Tapi aku sudah telanjur cinta berat padamu Sayang. Meski pun kita tidak boleh menikah, tapi hubungan kita harus tetap jalan ya Bonaku Sayang.”

“Iya Mbak. Nanti deh kalau sedang banyak waktu kita rundingkan lagi masalah hubungan kita ini,” ucapku sambil merayapkan tanganku ke balik daster pink Mbak Artini. Sampai menemukan celana dalam. Dan kuselinapkan tanganku ke balik celana dalam itu. Sampai menemukan celah memek Mbak Artini yang seharusnya kupanggil tantge Artini ini.

“Aaaah… soal panggilan sih jangan dipikirin. Apa aja… mau manggil Mbok juga boleh. Hihihiii…”

“Hush. Masa Mbok? Emangnya Mbak bakul jamu? Kalau kita sedang berdua aja, aku mau akan tetap manggil Mbak aja, tapi kalau ada orang lain mau manggil Tante ya.”

“Iya, iya. Terserah kamu aja Sayang. Yang penting cintaku jangan dicampakkan begitu saja. Bisa bunuh diri aku nanti kalau ditinggalkan olehmu.”

“Gak mungkin Mbak. Biar bagaimana Mbak ini sosok penting bagiku. Pertama, Mbak telah menyerahkan kesucian Mbak padaku. Kedua, aku takkan mungkin berjumpa dengan ibu kandungku kalau tidak ada Mbak.”

“Hmmm… Mbak Lies pasti sayang sekali padamu setelah tau siapa dirimu ya?”

“Iya, beliau sangat sayang padaku Mbak. Tapi nanti kalau ada telepon dari Mamie, jangan bilang Mbak sudah tau dariku. Jangan bilang juga kalau aku datang ke sini. Karena Mamie menyuruhku mengantarkan Mama pulang ke Subang. Bukan untuk menemui Mbak… eh Tante…”

“Hihihiii… jadi aku jatuh cinta pada keponakanku sendiri ya?” ucap Tante Artini sambil mencubit pipiku. Sementara jemariku mulai menyelundup ke dalam celah memek di balik celana dalam dan daster pinknya, “Ooooh… Booon… kalau sudah dicolok - colok gini aku langsung horny berat Boon…”

“Ayo kita main. Kontolku juga udah ngaceng berat nih…” sahutku sambil mengeluarkan tanganku dari balik celana dalam dan daster pinknya.

Tante Artini bangkit berdiri sambil menarik pergelangan tanganku. Lalu mengajakku masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamarnya, Tante Artini melepaskan daster dan behanya. Celana dalamnya pun ditanggalkan. Sehingga tubuh tinggi montoknya menjadi telanjang bulat di depan mataku. Ketelanjangan yang senantiasa menggiurkan dan membangkitkan gairah birahiku.

Aku pun menelanjangi diriku sendiri. Lalu menerkam tubuh putih mulus yang menggiurkan itu, dengan segenap hasrat birahiku.

Untungnya tadi aku berjuang untuk menahan diri agar jangan ejakulasi di dalam memek Mama. Sehingga persetubuhan dengan Mama tadi bisa kuanggap sebagai foreplay belaka.

Kali ini aku benar - benar akan menyetubuhi Tante Artini dan akan dicrotkan di dalam liang memeknya yang tetap masih sempit menjepit ini.

Dengan segenap hasrat birahi kuemut pentil toket Tante Artini yang sebelah kiri, sementara tangan kiriku mulai meremas toket kanannya. Suhu badan Tante Artini pun mulai menghangat.

Terlebih setelah mulutku melorot turun ke arah pusar perutnya. Kujilati pusar perutnya sebentar, kemudian melorot turun lagi sampai mulutku berhadapan dengan memek tembemnya yang sangat indah dan tampak sedang tersenyum manis itu.

Sepasang paha putih mulus itu pun merenggang. Dan dengan lahap kujilati memek tembem yang bentuknya sangat indah itu.

Tante Artini mulai menggelinjang… menggeliat - geliat erotis, dengan desah - desah nafasnya yang sudah lama kurindukan, “Aaaaaah… Boooon… aku tetap cinta kamu Sayaaaang… berat sekali cintaku ini padamu Bonaaaa… aaaaa… aaaaaah… jangan terlalu lama jilatinnya… aku sudah merindukan kontolmu Sayang…

Aku pun hanya sebentar menjilati memek dan itil tante Artini. Lalu kuletakkan moncong kontolku di ambang mulut tempik tembemnya. Dan kudorong dengan sekuat tenaga.

Blesssssss… kontolku melesak masuk sedikit demi sedikit ke dalam liang tempik yang luar biasa sempitnya ini.

Sesaat kemudian aku mulai mengentot tanteku yang usianya cuma beda enam tahun denganku ini.

Rintihan - rintihan histeris Tante Artini p;un mulai berkumandang di dalam kamar ini.

“Booonaaaa saayaaaang… aaaaaaah… aaaaaaa… aaaaaah… Boooonaaaaa… aku makin cinta padamu Sayaaaang… oooooohhhhh… aku sudah sangat merindukan semuanya ini… aaaa… kontolmu selalu membuatku merinding dalam nikmaaaaat… aaaaaaa… aaaaah… entotlah aku sepuasmu sayangkuuuuu…

Untung sekali, setibanya di rumah Mama, di Subang, Mbak Rina dan Mbak Lidya masih berada di kantornya. Sehingga aku tak perlu salah tingkah di depan Mama.

Aku pun langsung meninggalkan Subang, meski Mama menahanku agar menginap dulu di rumahnya. Ya… rumah itu ternyata memang milik Mama. Bukan dibeli dengan uang Papa. Karena itu setelah Papa bercerai dengan Mama, maka Papa lah yang harus angkat kaki dari rumah itu.

Mama memang rajin berbisnis, tak sekadar jadi IRT biasa. Bahkan kata Mama, penghasilan bisnisnya sekarang sudah jauh melampaui gaji dan penghasilan tambahan Papa.

Stamina fisikku masih cukup tangguh untuk nyetir kembali. Karena tadi malam menginap di hotel dan… menyetubuhi Mama sekali lagi. Bahkan dalam ronde kedua itu (diselang 1 ronde dengan Tante Artini), aku sangat lama menyetubuhi Mama. Sehingga Mama berkali - kali orgasme. Kemudian aku benar - benar ngecrot di dalam memek Mama, bukan berpura - pura lagi.

Karena itu waktu aku meninggalkan Subang, staminaku masih sangat segar.

Tapi jarak dari Subang ke Solo bukan jarak dekat. Sehingga ketika aku tiba di rumah Mamie, hari sudah cukup malam, sekitar jam sepuluh malam.

Mamie tampak senang sekali melihatku sudah pulang.

“Kok cepat sekali pulangnya? Kirain mau nginap di rumah Mama barang seminggu gitu, “sambut Mamie di dalam kamarku. Sambil mendekap pinggangku.

“Gak tau kenapa, rasanya aku gak bisa berjauhan dengan Mamie berlama - lama,” sahutku yang sedikit mengandung gombal.

“Sama… setelah tau bahwa kamu itu anak mamie, malah gak mau pisah lama - lama sama kamu Sayang,” ucap Mamie disusul dengan mendaratkan kecupan hangat di bibirku, “Ayo… sekarang sih mau tidur di kamar mamie juga boleh.”

“Tapi aku mau mandi dulu di kamar Mamie ya,” sahutku.

“Boleh. Apa pun boleh kamu lakukan dan boleh kamu miliki,” ucap Mamie yang disusul dengan bisikan, “Bahkan tempik mamie juga boleh kamu miliki seumur hidup.”

“Hihihihiii… iya Mam. Punya Mamie itu luar biasa enaknya…” sahutku sambil mengikuti langkah Mamie menuju pintu lift. Lalu kami naik ke lantai tiga.

“Kalau kamu mau, tiap malam bobo sama mamie juga boleh. Hitung - hitung kompensasi, karena waktu masih bayi gak pernah bobo sama mamie,” kata Mamie yang malam itu mengenakan kimono sutera berwarna orange dengan bintik - bintik merah bertaburan di sana sini.

“Tapi aku sudah dewasa sekarang Mam. Dua bulan lagi juga usiaku genap duapuluhempat tahun.”

“Kali aja kamu merindukan pelukan ibu sepanjang malam.”

“Tapi setelah dewasa gini, kalau dipeluk Mamie pasti kontolku ngaceng Mam.”

“Ya gak apa - apa. Kalau ngaceng kan tinggal masukin ke dalam tempik mamie. Sekarang ngaceng nggak?”

“Belum. Aku mau mandi dulu ya. Badanku penuh debu di sepanjang jalan dari Subang ke sini tadi.”

“Iya, mandi dulu deh, biar seger badannya.”

Lalu aku masuk ke dalam kamar mandi Mamie yang jauh lebih lengkap daripada kamar mandiku di lantai dasar. Sabun, shampoo dan sebagainya import semua. Ada bathtub segala di dalamnya. Sehingga aku bisa berlama - lama berendam dengan air sabun hangat, sambil menerawang ke mana - mana.

Namun malam itu aku hanya mandi dengan shower air hangat. Menyabuni sekujur tubuhku, lalu membilasnya lagi. Kemudian mengambil handuk baru untuk mengeringkan tubuhku. Dan mengambil kimono putih yang all size dan banyak terlipat di dalam lemari kaca kamar mandi.

Setelah mengenakan kimono itu aku menyisir rambut di depan cermin besar yang menempel di dinding kamar mandi.

Kemudian keluar dari kamar mandi dan melompat ke atas bed, di mana Mamie sedang menelentang sambil nonton televisi yang dipasang di dinding.

“Daripada nonton tivi mendingan nonton bokep Mam,” kataku sambil meletakkan tanganku di atas perut Mamie.

“Memangnya kamu punya filmnya?” tanya Mamie.

“Banyak. Tapi di kamarku. Ambil dulu ya.”

“Iya.”

Lalu aku melangkah ke dalam lift dan meluncur turun ke kamarku.

Kuambil external hardisk 2 Tb, yang isinya beribu - ribu bokep. Lalu aku naik lagi ke lantai tiga, untuk menyambungkan external HD itu ke smart TV Mamie.

“Gak pakai CD player Bon?” tanya Mamie.

“Sudah gak zaman pakai player sekarang sih Mam. Lagian televisi Mamie ini termasuk Smart TV. External HD ini menyimpan ribuan bokep Mam… nanti kalau ada yang menarik, kita praktekkan ya.”

“Iya Sayang,” sahut Mamie lembut.

Setelah External HD itu tersambung dengan TV, aku pun mengambil remote control. Dan menyetelkannya ke USB. Setelah tersambung, aku merebahkan diri di samping Mamie.

Video pertama adalah seorang anak muda dan seorang wanita setengah baya yang melakukan hubungan sex outdoor.

“Ini mengingatkan kita ya Mam. Kan untuk pertama kalinya aku merasakan legitnya tempik Mamie di puncak bukit itu kan?” ucapku sambil menyelinapkan tanganku ke balik kimono Mamie. Ternyata Mami tidak memakai celana dalam. Mungkin dia sudah siap untuk berhubungan sex denganku, jadi semuanya dimudahkan.

“Iya… waktu itu mamie sedang horny mulu. Lantas gak kuat lagi menahannya. Duuuh.. Bona Sayang… kalau tempik mamie udah digerayangin gini… mamie suka langsung horny.”

“Kan mau nonton bokep dulu Mam.”

“Biarin aja film itu main, kita juga main yok… mamie sudah kepengen dientot nih sama kontol gedemu…” ucap Mamie sambil melepaskan tali kimonoku, kemudian membuka kimono yang sedang kupakai ini. Sehingga kontolku yang sudah mulai ngaceng ini langsung terbuka.

Dan Mamie langsung memegang kontolku, sambil menjilati moncong dan lehernya. Bahkan lalu mengulumnya dengan lahap. Dan mulai menyelomoti kontolku tak ubahnya anak sedang menyelomoti permen loli.

Tak cuma itu. Mamie pun mengalirkan air liurnya ke badan kontolku, lalu dengan bantuan air liur itu Mamie mengurut - urut badan kontolku yang tidak terkulum oleh mulutnya.

Karuan saja kontolku jadi ngaceng berat. Tapi Mamie tampak masih asyik menyelomoti kontolku. Maka kubiarkan saja Mamie melakukan apa pun yang diinginkannya.

Sampai akhirnya Mamie menelentang sambil berkata, “Ayo… masukin aja kontolmu sekarang. Tempik mamie sudah basah nih.”

Tadinya aku ingin membalas untuk menjilati memek Mamie juga. Tapi karena kedua paha Mamie sudah direntangkan lebar - lebar, aku pun segera merangkak ke atas perutnya, sambil memegangi leher kontolku. Lalu meletakkan moncongnya di mulut memek Mamie yang bentuknya mirip - mirip memek Tante Artini (maklum adik - kakak).

Dan kudorong kontolku dengan sekuat tenaga. Blessssss… menyelundup masuk ke dalam liang memek Mamie…!

“Adudududuuuuuh… kontolmu memang enak sekali Sayaaaang… sejak aku tau bahwa kamu ini anak kandungku, ini pertama kalinya kontolmu dimasukin ke dalam liang vagina mamie yaaa…”

“Iya Mamieku Sayaaaang,” sahutku sambil mencium bibir Mamie, yang lalu disambutnya dengan lumatan hangat.

“Mwuaaaaaaahhhhh… kamu ini seolah menjelma jadi dua sisi bagi mamie. Sebagai anak semata wayang mamie, sekaligus sebagai suami mamie… aaaaah… kita tak usah bertanya kenapa harus jadi seperti ini… lanjutkan saja hubungan fisik kita seperti ini ya Sayaaang…”

“Iya Mam… kalau hubungan ini dihentikan di tengah jalan, aku bisa murung dan melamun mulu nanti… bahkan mungkin aku akan menjauhi Mamie dengan perasaan bersalah…”

“Kamu tidak bersalah. Kan yang mengawalinya mamie sendiri di puncak bukit itu Sayang. Ayolah… entotkan kontolmu… jangan direndem terus… nanti keburu jadi ager kontolnya… hihihihiiii…”

“Tapi kalau Mamie hamil nanti gimana?” tanyaku sambil mengayun kontolku perlahan - lahan.

“Gak mungkin. Sebelum kita bersetubuh di puncak bukit itu, mamie sudah disuntik oleh dokter. Jangan sampai hamil. Anakku cukup satu saja. Cukup kamu saja seorang. Tapi kamu jangan jadi anak yang manja ya. Jadilah anak yang rajin dan ulet dalam berbisnis. Demi masa depanmu sendiri.”

“Iiii… iya Mamieku…” sahutku yang mulai mempercepat entotanku.

Mamie pun tidak berbicara lagi. Bahkan mulai mendesah dan merintih histeris lagi seperti biasa. “Iyaaaaa… aaaaaah… iyaaaaaa… aaaahhhh… kontolmu ini… luar biasa enaknya sayaaaaang… entot teruuuusssss… entoooot teruuuussss… iyaaaaa… iyaaaaa… entooooooottttt… entoooootttttt …

Enak sekaliiiii… enaaaaaak… iyaaaaaa… entooooootttttt… entooooot… kontolmu enaaaaaak… entoooootttttt… aaaaaah… aaaaaa… aaaaahhh… pentil tetekku sedoooot… sedoooootttt kayak bayi netek… iyaaaaa… iyaaaaaa… entooooottttt… iyaaaaa… aaaaa… aaaaahhh…

Rintihan - rintihan histeris Mamie dibarengi dengan dengus - dengus nafasku. Sementyara entotan kontolku semakin menggila. Seolah mesin pompa yang sedang memompa liang memek ibu kandungku.

Terkadang mulutku nyungsep di atas toket gedenya, mengemut dan menyedot - nyedot pentilnya. Terkadang menjilati lehernya yang mulai keringatan, disertai gigitan - gigitan kecil yang tidak menyakitkan. Sementara tangan kiriku tetap asyik meremas - remas toket kanan Mamie.

Ketika tangan Mamie terjulur ke bawah kepalanya, kujilati pula ketiaknya yang beraroma parfum mahal. Membuat bokong gede Mamie semakin menggelepar - gelepar, memutar - mutar. meliuk - liuk dan menghempas - hempas. Sehingga kontolku terasa dibesot - besot dan dipilin - pilin oleh liang memeknya yang licin, empuk tapi legit ini.

Aku sudah hafal bahwa Mamie tidak ingin disetubuhi terlalu lama. Yang penting, pada waktu Mamie sudah mau orgasme, aku pun harus secepatnya berejakulasi. Bahkan kalau bisa, dilepasin bareng - bareng lebih disukainya.

Karena itu, ketika keringatku mulai merembes dari pori - pori kulitku, ketika Mamie mulai berkelojotan, aku pun mempercepat ayunan kontolku.

Maju - mundur - maju - mundur dengan cepat sekali. Sampai akhirnya… ketika sekujur tubuh Mamie mengejang tegang, kontolku pun ditancapkan di dalam liang memeknya.

Lalu… ketika liang memek Mamie terasa mengejut - ngejut, kontolku pun mengejut - ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Crrrroooottttt… crooootttttcrottt… croooootttttt… crottttt… crooooottttt… crooootttt…!

Kami sama - sama terkapar sambil berpelukan. Lalu terkulai lunglai di dalam kepuasan sedalam lautan.

“Mamie puas sekali… Terima kasih ya Sayang,” ucap Mamie yang disusul dengan kecupan mesranya di bibirku.

Setelah mencabut kontolku dari liang tempik Mamie, aku merebahkan diri di samping ibuku. Sambil menonton bokep yang masih tayang di layar televisi LED besar itu.

“Ohya… tadi ada tantemu yang dari Kalimantan datang. Dia tidur di kamar yang berdampingan dengan kamarmu.”

“Tante yang mana? Aku kan baru tau Tante Artini doang.”

“Adik - adik mamie ada empat orang. adik yang pertama bernama Surtini, tinggal di Semarang. Adik yang kedua bernama Haryati, tinggal di Surabaya. Adik yang ketiga bernama Artini… mantan ibu kosmu itu. Nah yang sedang nginap di rumah kita itu suka dipanggil Tari. Nama lengkapnya sih Muntari.”

“Jadi… Tante Tari itu adik bungsu Mamie?”

“Iya Sayang. Dia dijadikan istri muda seorang pengusaha batubara yang sudah tua. Tapi nikahnya secara diam - diam. Cuma nikah siri. Setelah sekian lamanya dijadikan istri muda, lama - lama ketahuan oleh istri pertamanya. Lalu Tari terus - terusan diteror oleh istri pertama. Sehingga akhirnya dia minta cerai saja.

“Sudah punya anak berapa orang?”

“Belum punya anak. Untung juga gak punya anak. Jadi gak repot ngurusin anak dalam status jandanya. Usianya masih sangat muda lho. Cuma setahun lebih tua darimu.”

“Jadi umurnya baru duapuluhlima tahun?”

“Iya. Waktu mamie melahirkan kamu, usia Tari baru setahun. Dia kan adik seayah beda ibu.”

“Owh… memangnya ayah Mamie berpoligami?”

“Nggak. Kan nenekmu meninggal duluan. Kemudian kakekmu menikah lagi. Maka lahirlah Tari itu.”

“Jadi… walau pun usianya cuma beda setahun, aku tetap harus manggil Tante padanya?”

“Seharusnya memang begitu. Kata orang - orang tua, kita tidak boleh merusak sirsilah. Status dalam keluarga harus tetap sesuai dengan kedudukannya. Meski usianya lebih muda darimu, tetap saja kamu harus manggil Tante padanya.”

Aku terdiam. Karena tayangan bokep di layar televisi lebih menarik perhatianku. Sepasang manusia tampak sedang bersetubuh di dalam mobil pick up.

Dan… diam - diam kontolku ngaceng lagi.

Untung Mamie pun terangsang oleh adegan di layar televisi itu. Sehingga kami bersetubuh lagi. Tentu dalam durasi yang lebih lama daripada persetubuhan yang pertama tadi…!

Bahkan di ronde kedua ini bermacam - macam posisi kami praktekkan. Sehingga keringat kami bercucuran kembali.

Lebih dari sejam kami melakukannya.

Dan setelah Mamie berkali - kali orgasme, aku pun akhirnya memuntahkan lendir maniku lagi di dalam liang tempik Mamie yang sangat legit itu.

Lalu kami tertidur sambil berpelukan. Dalam keadaan sama - sama telanjang, tapi ditutupi selimut tebal…

Keesokan paginya, setelah mandi bersama Mamie di kamar mandinya, tentu saja sambil saling menyabuni dan bercanda yang mengandung birahi, kami berpakaian lengkap lagi. Aku mengenakan pakaian casual, celana dan baju katun berwarna coklat muda. Mamie mengenakan gaun shanghai dress yang katanya beli di Hongkong waktu suaminya masih hidup, berwarna kuning muda yang tampak serasi sekali dengan kulitnya yang putih bersih.

Kemudian kami turun ke kamarku dan langsung menuju ruang makan untuk menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh pembantu bagian dapur. Cuma makan bubur ayam dengan taburan emping di atasnya, tapi terasa lancar di mulut.

Setelah selesai makan sarapan pagi, Mamie menyuruhku menunggu sebentar di ruang makan, sementara Mamie membuka pintu kamar yang berdampingan dengan kamarku.

Tak lama kemudian Mamie keluar lagi bersama seorang wanita muda bergaun putih bersih yang… aduh maaaak… wanita muda itu luar biasa cantiknya…! Tak kalah cantik dnegan artis - artis yang sering tampil di televisi…!

Sambil memegang pinggang wanita muda berperawakan tinggi langsing itu, Mamie berkata padaku, “Bona… ini adik bungsu mamie yang namanya Tari… meski usianya hanya beda setahun denganmu, kamu harus memanggilnya Tante… ayo kenalan sama tantemu ini…”

Dengan suara setengah berbisik aku langsung menanggapi, “Tante juga cantik sekali, masih sangat muda pula…”

Tante Tari menatapku dengan senyum manis yang aduhai.. dan.. mencium bibirku di depan Mamie…!

Membuatku gelagapan. Tapi kulihat Mamie cuma tersenyum - senyum sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Entah isyarat apa yang Mamie maksud dengan kedipan sebelah matanya itu.

Lalu kami melangkah ke ruang keluarga. Kami duduk berdampingan di sofa panjang berbentuk L yang sudutnya menempel di sudut ruang keluarga itu. Aku duduk diapit oleh Mamie dan Tante Tari yang ternyata ramah sekali itu.

Mamie di sebelah kiriku, Tante Tari di sebelah kananku.

“Biar tantemu ini jangan murung terus, ajak dia main ke tempat yang bisa menghibur hatinya Bon,” kata Mamie.

“Ajak main ke mana Mam?” tanyaku bersemangat.

“Ke mana aja,” sahut Mamie, “Ohya… mamie kan punya tanah di perbatasan Jabar dengan Jateng. Tantemu sudah dua kali diajak ke sana waktu masih gadis dulu. Sedangkan Bona kan belum pernah diajak ke sana. Tanah di perbatasan itu termasuk tugasmu juga untuk mengelolanya nanti kan? Nah… kapan - kapan ajak tantemu ini ke sana.

“Sekarang sih jangan jauh - jauh dulu Mbak. Kalau ke Jogja, aku mau. Pengen beli gaun batik yang bagus kualitasnya, “tanggap Tante Tari.

“Mau ke Jogja sekarang? Boleh,” kataku.

Mamie juga tampak setuju, “Iya… anterin dia ke mana pun yang dia mau. Pokoknya setelah tinggal di rumah ini, dia gak boleh murung lagi. Harus kembali ceria seperti dahulu. Dandan aja dulu sana Tari.”

“Nggak usah,” sahut Tante Tari, “Pakai gaun ini aja gak apa - apa kan?”

“Iya, “Mamie mengangguk, “Pakai gaun itu juga gak apa - apa. Nanti di Jogja beli gaun yang bagus - bagus.”

“Aku juga pakai ini aja,” kataku sambil memegang lengan baju katun coklat mudaku.

Kemudian Mamie bangkit sambil mengedipkan matanya padaku. Isyarat yang satu ini kumengerti. Bahwa aku harus mengikuti langkah Mamie, sementara Tante Tari juga berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.

Mamie mengajakku bicara di dalam kamarku, “Dia itu bawa duit banyak sekali. Mantan suaminya kan petambang batubara yang duitnya berlimpah ruah. Kelihatannya dia suka padamu Bon. Kamu rayu aja dia sampai jatuh hati padamu.”

“Lho… Mamie kok ngomong gitu?” tanyaku heran dan bingung.

“Biar dia kerasan di sini Sayang. Supaya sakit hatinya terobati olehmu. Selain daripada itu… nanti deh mamie bicara panjang lebar denganmu. Tapi masalah rahasia kita jangan sampai dia tau. Kecuali…”

“Kecuali apa?” tanyaku karena Mamie tidak melanjutkan kata - katanya.

“Kecuali kalau kamu sudah mendapatkan dia dan sudah menggaulinya, kita boleh buka kartu.”

“Kok Mamie seperti ngotot begitu, ingin agar dia tetap tinggal di sini?”

“Tari itu punya faktor keberuntungan yang bagus sekali Bon. Mantan suaminya sering bilang gitu dahulu. Bahwa sejak Tari jadi istrinya, usaha mantan suaminya itu langsung meledak - ledak. Lagian Tari takkan menyusahkan kita kok. Duit pemberian mantan suaminya sangat buanyaaak… Kalau dia jatuh ke tangan lelaki yang pemorotan kan bahaya.

“Memangnya Mamie rela kalau dia benar - benar jatuh hati padaku nanti?” tanyaku memancing. Padahal aku sudah setuju dengan keinginan Mamie itu.

“Rela… sangat rela. Asalkan mamie tetap dapat jatah darimu Sayang. Ya udah pergi sana. Mau pakai mobil yang mana terserah kamu.”

“Pakai sedan yang kemaren kupakai nganterin Mama aja.”

“Iya, terserah kamu. Semua mobil di garasi itu kan sudah jadi punyamu juga sekarang.”

Kemudian kami keluar menuju ruang tamu, di mana Tante Tari sudah menunggu sambil menjinjing tas kecilnya.

“Mbak Lies… villa kayu yang berada di dekat Parangtritis itu masih punya Mbak?” tanya Tante Tari pada Mamie.

“Masih, “Mamie mengangguk. Mau ke sana? Silakan aja. Sebentar… kuncinya tak ambil dulu.”

Lalu Mamie bergegas menuju ruang kerjanya. Tak lama kemudian mamie sudah kembali lagi sambil membawa seuntai kunci. Lalu diserahkannya kunci - kunci itu kepada Tante Tari sambil berkata, “Villa itu biasa dibersihkan dan ditata oleh seorang lelaki bernama Sapto. Nanti kalau dia nyamperin, kasihkan duit ini padanya.

Beberapa saat kemudian aku sudah menjalankan sedan hitam built up Germany ini menuju Jogja, tentu harus lewat Solo dulu.

“Sudah punya pacar belum?” tanya Tante Tari sambil memegang tangan kiriku yang nganggur, karena sedannya bisa matic bisa manual juga. Kali ini kuaktifkan maticnya.

“Belum,” sahutku, “Diwisuda juga baru sebulan. Langsung sibuk ngurusin perusahaan Mamie. Jadi… belum sempat nyari calon pacar… apalagi calon istri.”

“Masa sih cowok seganteng kamu gini belum punya pacar?! “tanyanya sambil meremas tangan kiriku dnegan lembut.

“Waktu masih kuliah, aku kan belum dipertemukan dengan Mamie. Pada saat itu aku hanya konsen kuliah aja. Gak mau mikirin cewek.”

“Sayangnya kamu anak kakakku.”

“Memangnya kalau anak kakak kenapa?”

“Gak bisa kawin.”

“Kawin apa nikah?”

“Nikah… hihihihiii… kalau kawin sih boleh - boleh aja.”

“Mau dong kawin sama tante yang cantik begini sih…”

“Kawin apa nikah?”

“Kawin.”

“Kalau gitu sekarang langsung ke jalan menuju Parangtritis aja. Setelah lewat ISI, belok ke kiri. Menuju villa punya mamiemu. Belanja pakaian sih gampang, kapan - kapan juga bisa.”

“Mau ngapain ke villa?”

“Katanya mau kawin. Ya udah kita lakukan di villa aja. Mumpung darahku lagi hangat nih.”

“Serius nih?”

“Tiga rius bukan serius lagi. Aku suka kok punya keponakan ganteng gini,” ucap Tante Tari yang disusul dengan kecupan hangatnya di pipi kiriku.

Sebagai jawaban, kecepatan mobil kukurangi, lalu kubelokkan ke samping kiri, ke bahu jalan. Lalu kuhentikan tanpa mematikan mesinnya.

“Kenapa berhenti?” tanya Tante Tari.

“Tadi waktu kita kenalan, Tante nyium bibir segala kan? Sekarang giliranku untuk mencium bibir Tante.”

Tante Tari celingukan, “Nanti ada orang liat gak?”

“Kacanya gelap Tante. Dari luar gak bisa melihat ke dalam mobil ini,” sahutku sambil melingkarkan lengan kiriku di leher Tante Tari.

Tante Tari tersenyum. Lalu mendekatkan bibirnya ke bibirku.

Maka kupagut bibir sensual itu. Dan kulumat dengan lahap, membuat sepasang mata bening dan indah itu terpejam.

Lama juga kulumat bibir tanteku yang sangat cantik ini, karena ia pun balas melumat bibirku.

Setelah ciuman dan lumatan itu terlepas, terdengar suara Tante Tari yang belum pantas kupanggil tante itu saking masih mudanya, “Bona…”

“Ya?” sahutku sambil melajukan lagi mobil Mamie yang katanya sudah jadi mobilku juga ini.

“Kayaknya aku jatuh hati dalam pandangan pertama di rumah mamiemu tadi.”

“Nggak ada yang salah kan?”

“Tapi… mungkin kita hanya bisa saling mencintai, tanpa bisa melangkah ke arah yang sah.”

“Kita jalani aja apa yang mungkin terjadi kelak Tante. Jujur, begitu melihat Tante tadi, aku juga seperti Tante. Langsung jatuh hati. Makanya aku kaget ketika Tante mencium bibirku di rumah tadi.”

“Iya… tadi aku sudah gak nahan melihat bagusnya keponakanku. Makanya gak sungkan - sungkan lagi mencium bibirmu di depan mamiemu.”

“Tapi sejak Tante mencium bibirku tadi, aku langsung merasa ingin memiliki Tante.”

“Kamu boleh memiliki aku lahir batin. Tapi kita takkan bisa menikah secara sah Bon. Gak apa - apa kan?”

“Gak apa - apa. Anggap aja kita sedang berada di Eropa, yang bebas melakukan apa saja.”

Tante Tari mengecup p;ipi kiriku lagi, Emwuuuuaaaah… !” disusul dengan ucapan, “Aku gak mau munafik Bon. Detik ini aku merasakan getaran cinta ini. Aku langsung jatuh cinta padamu Bon.”

“Hmmm… si dede langsung bangun nih Tante.”

“Masa?! Pengen lihat yang baru bangun dong,” kata Tante Tari sambil memegang ritsleting celana katunku.

Kubantu dengan menurunkan ritsleting celana katunku. Lalu kupelorotkan celana katunku berikut celana dalamnya sekalian.

“Waaaaw! “pekik Tante Tari sambil menggenggam kontolku yang sudah ngaceng ini, “Gagah bener dedemu ini Booon… ya gede banget ya panjang banget… wahwaaah… bisa klepek - klepek aku kalau dikasih yang segede dan sepanjang ini sih.“

“Memangnya punya mantan suami Tante segede apa?”

“Aaaah, punya dia sih jauh lebih kecil daripada kontolmu ini Bon. Lagian usianya juga sudah hampir enampuluh tahun. Banguninnya susah. Harus dioral dulu.”

“Tapi tentu ada kelebihan dia yang membuat Tante bersedia dijadikan istrinya kan?”

“Kelebihan dia hanya duitnya aja Bon. Dia tak segan - segan menghamburkan duitnya padaku. Itu saja. Yang lainnya sih nol besar.”

“Tapi Tante gak punya anak ya dari dia?”

“Ya itu… dia kan sudah tua. Mungkin spermanya sudah lemah. Makanya gak mampu membuahi telurku.”

“Nanti kubuahi, mudah - mudahan bisa.”

“Mau kok aku dihamili olehmu. Biar kalau lahir anak cowok, pasti ganteng seperti ayahnya,” sahut Tante Tari sambil menciumi puncak kontolku.

“Jangan dioral Tante… !” cegahku.

“Kenapa?”

“Aku kan lagi nyetir. Bisa nabrak mobil orang nanti kalau dioral sekarang.”

“Ooooh iya, iyaaa… aku lupa Bon. Ya udah… sekarang konsen ke setir aja dulu. Nanti kuemut kontolmu di villa.”

“Aku juga mau jilatin puki Tante.”

“Heh… kok kamju bisa bahasa Banjar?”

“Yang jorok - jorok sih bisa. Di Kalimantan kontol itu disebut butuh, kalau memek disebut puki kan?”

“Iyaaaaaa…”

“Kalau bersetubuh disebut basakian. Cewek cantik disebut galuh bungas, benar kada?”

“Cailaaaa… ternyata kamu bisa ngomong bahasa Banjar juga ya.”

“Ulun masih belajar Tante.”

“Duh… tau ulun segala. Itu bahasa halus. Kan bahasa Banjar juga punya bahasa halus dan kasarnya.”

“Bujurrrrrr…”

“Nah bujur itu kalau dalam bahasa Sunda berarti pantat. Tapi buat bahasa Banjar berarti betul.”

Sedan hitam ini berlari terus di jalan menuju Parangtritis. Seperti petunjuk Tante tari, pada suatu saat sedan ini kubelokkan ke kiri.

Dendang birahi pun mulai berkumandang di dalam batinku.

Lalu terngiang lagi kata- kata mamie di rumah tadi. Berarti kalau terjadi sesuatu di antara aku dengan Tante Tari, adalah atas restu Mamie juga.

Lelaki bernama Sapto itu tampak senang sekali menerima uang dari Tante Tari. Uang gaji untuk tiga bulan ke depan, dari Mamie.

Sementara aku memperhatikan keadaan di sekeliling villa kayu ini.

Villa yang terbuat dari balok - balok kayu glondongan ini dikitari oleh kebun sawo.

Setelah Sapto berlalu, Tante Tari menghampiriku, “Kebun sawo di sekeliling villa ini punya mamiemu semua Bon.”

“Ogitu ya. Aku kan baru dipertemukan dengan Mamie beberapa hari yang lalu. Menginjak villa ini pun baru sekarang,” sahutku.

“Nanti semua harta mamiemu akan menjadi milikmu Bon. Karena anaknya hanya kamu satu - satunya. “

“Aku bahkan harus berjuang untuk mengembangkan harta Mamie. Bukan cuma memilikinya saja. “

“Nanti aku juga mau berinvestasi. Mungkin aku akan menyerahkannya padamu untuk mengelola investasiku agar berkembang step by step. “

“Investasi Tante ingin dikembangkan dalam bentuk apa?”

“Terserah kamu Bon. Kamu tentu lebih tau harus dikembangkan dalam bentuk apa. Aku sih yang penting berkembang tapi aman. “

“Kalau mau aman sih kembangkan dalam dunia properti aja Tante. “

“Properti apa saja contohnya?”

“Misalnya, beli tanah di daerah strategis. Lalu bangun rukpo - ruko. Setelah selesai ya dijual ruko - rukonya. “

“Naaah… boleh tuh. Bikin perumahan juga boleh. “

“Kalau oerumahan harus luas lahannya. Sedangkan di Jogja mau pun di Solo sudah sulit mencari lahan luas - luas Tante. Kalau bangun ruko sih tanah setengah hektar juga bisa dijadikan beberapa buah ruko. Lalu cari lagi lahan lain… itu pun kalau dananya cukup. “

Tante Tari lalu membisikkan jumlah dana yang dimilikiinya. Aku tercengang dibuatnya. Mungkin hampir sama jumlahnya dengan saldo Mamie di bank…!

Tapi aku berusaha untuk bersikap datar - datar saja. Lalu melangkah ke dalam villa kayu itu.

Ternyata di dalam villa itu ditata sedemikian nyamannya sehingga aku tertegun sejenak, karena tak menyangka kalau di dalam villa itu tampak serba mewah, tidak sederhana seperti kelihatan dari luarnya. Di dalam villa kayu itu ada kulkas, televisi, mesin cuci, microwave dan sebagainya. Tentu saja ada listrik yang waktu membiayainya dulu pasti mahal sekali, karena kabelnya harus membentang jauh ke jalan raya.

Namun yang paling kukagumi adalah Tante Tari itu… yang telah menanggalkan gaunnya, meski ada lingerie di balik gaun putih bersih itu.

Lalu sambil bertolak pinggang ia menatapku dan bertanya, “Apakah aku memenuhi syarat untuk dijadikan kekasih tercintamu?”

“Belum kelihatan semuanya. Jadi aku belum bisa menilainya Tan. “

“Nah begitu aja… panggil aku Tan aja, jangan dikengkapkan jadi tante. Karena umurku kan baru duapuluhlima tahun. Belum layak dipanggil tante,” ucapnya sambil duduk di atas sofa bertilamkan kain putih bersih.

“Iya,” sahutku sambil duduk di sampingnya. Ingin melihat dengan jelas ketika ia sudah melepaskan behanya. Tampaklah samar - samar sepasang toket yang tidak besar. Tapi tampak seperti masih kencang sekali. Tak ubahnya toket perawan.

“Toketku kecil kan?” ucapnya sambil menyembulkan toketnya dari belahan lingerienya.

Dengan tangan agak gemetaran, kupegang toket yang diangsurkan padaku itu.

“Segini sih sedang Tante. Masih kencang padat gini… kayak toket ABG yang masih perawan.”

“Sekujur tubuh dan segenap jiwaku akan menjadi milikmu Bon.” ucap Tante Tari sambil menanggalkan lingerienya. Lalu juga celana dalamnya. Tampak sebentuk memek yang mungil, dengan sedikit jembut pendek - pendek di atasnya, “Tapi lepasin dong pakaianmu. Masa cuma aku yang telanjang sendiri?”

Aku tersenyum sambil melepaskan baju dan celana katunku. Disusul dengan pelepasan celana dalamku.

Tante Tari langsung menyergap kontolku yang sudah agak tegang tapi belum full ngaceng. “Satu - satunya lelaki yang pernah kurasakan kontolnya adalah lelaki tua yang mantan suamiku itu. Sekarang aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih gagah. Orangnya pun ganteng sekali. Hmmm… sekarang sudah boleh kuoral?

“Tadinya justru aku yang ingin mengoral Tante. Soalnya memek Tante itu… aaah… menggiurkan sekali Tan. “

“Ya udah kalau gitu.. lakukanlah,” ucap Tante Tari sambil melompat ke atas bed. Lalu menelentang sambil mengusap - usap memeknya yang mungil dan menggiurkan itu.

Aku pun langsung merayap ke antara dua paha putih mulus yang sudah direnggangkan, sampai wajahku berhadapan dengan memeknya. Lalu kuciumi memek mungil itu sanbil mengangakannya dengan kedua tanganku, sampai tampak bagian dalamnya yang berwarna pink itu.

Mulailah aku menjilati memek Tante Tari yang penampilannya seperti gadis belasan tahun itu.

“Aaaaaahhhh… bermimpi pun tidak kalau aku akan mengalami ini semua Bona…” ucap Tante Tari sambil mengusap - usap rambutku.

Dan tubuh indahnya mulai menggeliat - geliat setelah aku mulai gencar menjilati bagian dalam memeknya yang berwarna pink itu. Terlebih lagi setelah aku menjilati itilnya disertai dengan sedotan - sedotan agak kuat, mendesah dan merintihnya adik bungsu Mamie itu dibuatnya, “Booonaaaaa… aaaaaa… aaaaaah Boooon…

Kamu sudah pandai sekali maen oral… ini luar biasa enaknya Boooon… tapi jangan terlalu lama yaaaa… aku takut keburu orga… Boooon… iyaaaaa… itilnya jilatin dan isep - isep terus Boooon… itilnya ajaaaa… itilnyaaaaa… iyaaaaa… itilnya… itiiiil… aaaaaaah Boooon …

Dengan sigap kutanggapi permintaan Tante Tari itu dengan meletakkan moncong kontolku yang sudah ngaceng berat ini, tepat di mulut memeknya yang sudah kemerahan.

Dan dengan sekuat tenaga kudesakkan kontolku sampai membenam kepalanya. Kudesakkan laagi sekuat tenaga… blesssss melesak amblas lebih dari separuhnya.

Tante Tari pun merengkuh leherku ke dalam pelukannya, “Maaf ya gak jadi nyepong kontolmu… keburu tak kuat… keburu ingin dientot oleh kontolmu yang panjang gede ini… “

“Nggak apa. Aku lebih suka mengoral daripada dioral,” sahutku sambil mulai mengayun kontol ngacengku perlahan - lahan dulu. Memang sebenarnyalah aku seperti itu. Lebih suka menjilati memek daripada kontolku diselomoti cewek. Sebabnya, kalau terlalu lama kontolku diselomoti, pada waktunya dientotkan di dalam liang memek malah gelis metu (cepat keluar).

Dan kini aku sedang mulai menikmati liang memek Tante tari ini. Gila… sempit sekali liang memek tanteku ini. Tak kalah sempit dengan liang memek Tante Artini waktu baru pertama kali kuperawani, tak kalah sempit dengan liang memek Mbak Rina dan Mbak Lidya waktu aku memecahkan selaput dara mereka.

“Memeknya sempit sekali Tante… gak beda dengan memek perawan sebelum disetubuhi cowok,” kataku setengah berbisik waktu mulai asyik mengayun kontolku, bemaju - mundur di dalam liang memek adik bungsu Mamie ini.

“Kan selalu dirawat oleh ramu - ramuan tradisional,” sahut Tante Tari sambil merapatkan pipinya ke pipiku. “Lagian kontolmu ini… kegedean Bon. Tentu aja liang memek mana pun akan terasa sempit bagimu. Jangan terlalu cepet ngentotnya ya… slow aja… biar romantis… “

Tante Tari melanjutkan ucapannya itu dengan mencium bibirku, lalu menyedot lidahku ke dalam mulutnya. Terkadang menyedot bibirku juga, seolah sedang melumatnya. Ini berlangsung lama… lama sekali, sementara liang memeknya terasa sudah mulai mekar… menyesuaikan diri dengan ukuran kontolku yang memang di atas rata - rata.

O, betapa nikmatnya menyetubuhi adik bungsu Mamie ini…!

Rupanya dia senang “slow motion”, sehingga gesekan demi gesekan di antara alat vital kami lebih bisa dihayati. Gesekan nikmat yang membuat kami serasa tengah berada di kahyangan… seolah tengah berada di surga… surga dunia.

Setelah lumatannya dilepaskan, kualihkan mulutku untuk menjilati leher jenjangnya disertai dengan gigitan - gigitan kecil. Sementara tanganku pun ikut beraksi. Tangan kiriku meremas - remas toket kanannya, sementara tangan kananku digunakan untuk mengusap - usap rambutnya yang tergerai lepas.

Tante Tari mulai menggeliat - geliat erotis. Desah - desah nafasnya pun mulai terdengar berbaur dengan rintihan - rintihan histerisnya, “Aaaaah… aaaaa… aaaaahhhh… Booon… aaaaaah… ini luar biasa nikmatnya… tak kusangka… bakal menikmati semuanya ini… aku cinta kamu Booon… cintaaaa…

Aaaaaah… kontolmu luar biasa nikmatnyaaaa… entot terusss… perlahan gini aja Boooon… aku ingin menghayati nikmatnya disetubuhi olehmu… aku sayang kamuuuu… cinta kamuuu… Boooonaaaaa… entooootttt terussss… Booonaaa… luar biasa indahnya dunia ini Booon… cintai aku juga ya Bona Sayaaaang…

Kedua tangan Tante Tari pun terkadang meremas - remas kain seprai, di saat lain meremas - remas bahuku, rambutku, tengkukku… dan terkadang mengepak - ngepak kasur, seolah burung patah sayap, ingin terbang tapi tak bisa.

Dalam indahnya menikmati semua ini, terngiang lagi kata - kata Mamie… agar Tante Tari jatuh cinta padaku. Agar hartanya jangan jatuh ke tangan lelaki pemorotan.

Tapi aku melakukan semuanya ini bukan untuk harta. Bukan. Aku hanya ingin menikmati hidup yang “terlambat nakal” ini. Karena semasa masih kuliah, aku tak pernah bertualang dengan siapa pun. Dan kini aku bebas melakukannya dengan wanita pilihanku sendiri… meski dengan keluargaku sendiri.

Sementara itu keringatku mulai bercucuran. Bercampur baur dengan keringat tanteku. Dan manakala keringat sudah membasahi tubuh kami ini, Tante Tari berbisik terengah, “Aku sudah mau lepas… mau orgasme… oooooohhhhh… sekarang percepat entotanmu sayang… aku mau lepas… mau lepasssssssss …

Tante Tari mulai berkelojotan. Aku pun mempercepat entotanku, seolah pelari marathon yang sedang sprint di depan garis finish… dan Tante Tari semakin klepek - klepek… sampai akhirnya menggeliat dan mengejang. Dengan mulut ternganga, dengan mata terpejam dan nafas tertahan.

Pada saat itulah kutancapkan kontolku sedalam mungkin, sampai menabrak dan mentok di dasar liang sanggama Tante Tari …

Pada saat itulah kurasakan sesuatu yang sangat indah. Bahwa liang memek tanteku berkedut - kedut… empot - empotan seperti pantat ayam waktu ditiupin… mpot mpot mpot… apakah ini yang disebut mpot ayam?

Namun gilanya, aku pun tak dapat bertahan lagi. Tiba - tiba moncong kontolku memuntahkan lendir kenikmatanku… crooootttt… crooootttttt… crooootttttttt… croootttt… crooootttt… crottt… crooootttt…!

Aku menggelepar di atas perut tanteku.

Lalu kami sama - sama terkulai lunglai. Dengan keringat membanjiri tubuh kami.

Ketika kuperhatikan wajah Tante Tari yang sedang menatapku dengan senyum di bibir mungilnya… tampak sekali bedanya. Dia lebih cantik dari sebelumnya. Cantiknya seorang wanita muda yang baru menikmati kepuasan birahi.

Lalu ia mencium bibirku dengan mesranya, disusul dengan bisikan, “Terima kasih Bona Sayaaaang… baru sekali ini aku merasakan puas yang benar - benar puas… barusan kita bareng - bareng lepasnya ya?”

“Iya Tante… gak kuat nahan lagi. Memek Tante terlalu enak sih. “

“Mudah - mudahan aku hamil nanti ya Bon. Soalnya sekarang aku sedang di dalam masa subur. “

“Tante mau punya anak dariku. “

“Sangat mau. Kalau anaknya cowok, biar ganteng seperti ayahnya. “

“Kalau anaknya cewek, biar cantik jelita seperti ibunya. Tapi kita gak boleh menikah.”

“Biar aja. Yang penting aku ingin cinta kita berbunga dan berbuah.”

“Iya Tante,” sahutku sambil mencabut kontolku dari liang memek tanteku. Kemudian aku turun dari bed sambil mengepal pakaianku. Dan melangkah menuju kamar mandi.

Ternyata kamar mandinya pun tak beda dengan kamar mandi dalam rumah - rumah elit di kota besar. Lengkap dengan bathtubnya segala. Mamie memang punya selera tinggi. Maklum beliau kan belasan tahun hidup di Hongkong bersama seorang pengusaha tajir melilit. Tentu saja seleranya pun tidak murahan.

Lalu entah kenapa, setelah bersih - bersih dan mengenakan pakaian lagi, aku teringat pada Mamie dan ingin meneleponnya. Maka kukeluarkan handphone dari saku celanaku. Kupijit nomor Mamie. Dan :

“Ya sayang… ada apa?”

“Boleh kami nginap di villa kayu Mam?”

“Boleh. Boleh. Usahakan agar dia mencintaimu Sayang. “

“Sudah. “

“Haaa? Sudah?!”

“Iya,” sahutku yang tetap ngomong perlahan. Takut terdengar oleh Tante Tari yang masih terkapar di atas bed itu.

“Hebat. Anak Mamie memang punya daya pesona tinggi. Mamienya aja sampai bertekuk lutut. Jadi maksud sudah itu, sudah kamu gauli?”

“Iya. “

“Hihihiiii… baguusss… berarti dia takkan jatuh ke tangan lelaki yang cuma ingin morotin duitnya. Tau nggak? Duit dia itu lebih banyak daripada duit Mamie Bon. Tapi dia gak ngerti mau diapakan duit sebanyak itu. Makanya nanti kamu arahkan, agar duitnya dikembangkan. Jangan dihabiskan begitu saja.

“Iya Mam. Sudah ya. “

“Iya, iyaaaa… kalau mau nginep di villa kayu itu, ngineplah dengan tenang. Yang penting Mamie juga harus dapet jatah nanti yaaa… emwuaaaah… “

Ketika keluar dari kamar mandi, kulihat Tante Tari sedang rebah miring sambil memeluk bantal guling, dalam keadaan masih telanjang bulat.

Kutepuk - tepuk bokongnya yang proporsional, gede tidak tepos pun tidak.

Tante Tari membalikkan badannya. Membuka kelopak matanya. Menatapku dengan senyum manis di bibir mungilnya. “Udah pakai baju lagi? Belanja di Jogja sih besok lagi aja Bon. Aku masih ingin berlama - lama bersamamu di sini.”

“Iya Tan. Mau nginep juga bisa. Besok atau lusa aja pulangnya.”

“Harus ngomong dulu sama mamiemu. Biar dia nggak merasa cemas.”

“Sudah nelepon barusan. Minta izin mau nginep di sini.”

“Terus mamiemu bilang apa?”

“Ngasih izin. Mau nginep seminggu juga di sini boleh.”

“Hihihiii… asyik dong. Kita bisa memadu cinta sepuasnya di sini. Tapi kalau sudah pulang ke rumah… mati kutu nanti.”

“Kenapa mati kutu? Kamar kita kan berdampingan. Di antara kamar Tante dengan kamarku kan ada pintu. Kunci pintu itu ada padaku. Jadi kapan saja kita bisa melakukannya setelah pulang nanti.”

“Owh… iya ya. Aku pasti ketagihan nanti. Karena baru sekali ini merasakan nikmatnya disetubuhi cowok… yang lebih muda dariku pula cowoknya,” ucap Tante Tari sambil meremas tanganku dengan lembut.

Ketika aku duduk di samping Tante Tari yang maish telanjang, dia bangkit sambil berkata, “Sebentar… mau bersih - bersih dulu Sayang.”

Lalu ia bergegas menuju kamar mandi.

Aku menunggunya sambil duduk bersila di atas bed.

Tak lama kemudian Tante Tari muncul lagi, dengan tubuh dibalut handuk putih yang tersedia di kamar mandi. “Tanah mamiemu di sini cukup luas Bon. Mau sekalian survey?”

“Boleh, “aku mengangguk sambil turun dari bed, “Kita kan mau nginep di sini. Tapi pada gak bawa baju ganti ya?”

“Iya sih. Gak usah nginepo segala deh. Kalau nanti mau ngentot aku lagi kan tinggal buka pintu yang menghubungkan kamarmu dengan kamarku aja.”

“Terus kita mau pulang aja gitu?”

“Ke Jogja dulu. Mau nyari gaun batik yang bagus.”

“Hehehee… percuma aja aku nelepon Mamie tadi, minta izin untuk tidur di sini.”

“Gak percuma lah. Kan nanti malam kita masih bisa main di kamarku,” ucap Tante Tari disusul dengan kecupan hangat di pipiku.

Akhirnya aku setuju untuk pulang dan mampir dulu di Jogja. Sambil berjalan menuju tempat parkir mobilku, Tante Tari menunjukkan dari mana ke mana batas tanah punya Mamie. Semuanya ditanami pohon sawo. Semuanya tampak subur. Jadi kurasa tiada yang perlu direkayasa lagi.

Dalam perjalanan menuju Jogja, Tante Tari berkata, “Bon… meski kita saling mencintai, kita takkan bisa menikah. Tapi aku tidak rela kehilangan kamu. Meski pada suatu saat kamu sudah menikah, hubungan kita harus jalan terus.”

“Aaaah… jangan mikir sejauh itu Tante. Aku sih belum mikir nikah segala. Apalagi sekarang sudah punya Tante Tari, yang cantik dan sulit dicari tandingannya. Mendingan konsen sama Tante aja… tapi itu pun kalau Tante menginginkannya juga.”

“Mungkin aku takkan menikah lagi. Aku akan menganggap kamu aja sebagai suamiku, walau pun kita tidak bisa menikah secara sah.”

“Siap Tante.”

“Siap apa?”

“Siap untuk menjalin hubungan rahasia dengan Tante. Tapi Mamie juga takkan menghalangi hubungan kita Tan.”

“Aku memang paling disayangi di antara adik - adik mamiemu. Tapi dalam masalah hubungan kita, entahlah. Mungkin beliau akan melarang…”

“Nggak mungkin, “sergahku, “Mamie malah menyuruh aku menghibur Tante… biar jangan murung terus katanya.”

“Menghibur kan gak sama dengan mencintai Bon.”

“Lihat aja nanti. Aku akan memperlakukan Tante semesra mungkin di depan Mamie. Kujamin Mamie takkan merintangi.”

“Ohya?! Mudah - mudahan aja seperti itu. Tapi aku butuh rumah pribadi juga Bon.”

“Bisa kucarikan rumah sih. Maju di Solo apa di Jogja?”

“Di mana aja. Yang penting suasananya aman, nyaman dan bebas. Dan yang terpenting, bisa hidup bersama denganmu Bonaku Sayaaang,” ucap Tante Tari yang lagi - lagi disusul dengan kecupan mesranya di pipi kiriku.

“Iya Tan, “cuma itu yang bisa kuucapkan sebagai tanggapan untuk ucapannya.

“Jujur Bon… sebenarnya simpananku di bank lebih besar daripada simpanan mamiemu. Karena aku punya rekening di lima bank. Karena itu aku ingin punya cowok yang kucintai dan bisa dipercaya untuk mengembangkan dana simpananku. Supaya kalau aku punya anak kelak, masa depan anaknya akan terjamin. Dan cowok itu adalah kamu Sayang.

“Iya Tan,” sahutku singkat lagi, karena sedang konsen nyetir.

“Entah kamu itu punya daya pikat yang segitu hebatnya. Sehingga dalam hitungan jam - jaman, aku sudah mencintaimu begini dalamnya.”

“Aku akan merawat cinta Tante itu dengan segala daya dan upaya.”

“Kamu siap untuk punya anak dariku?”

“Siap Tante. Lahirnya seorang anak, bisa memperkuat tali cinta kita.”

“Makanya nanti di rumah, kamu harus rajin menyetubuhi aku selama masa suburku ini. Biar jadi anak… anak kita.”

“Tapi pada waktu hamil, mungkin Tante harus bersembunyi dulu. Jangan ketemu saudara dan siapa pun.”

“Makanya aku minta dicarikan rumah, tujuannya kan untuk itu. Kalau aku hamil di rumahmu kan nggak enak sama mamiemu. Karena dia akan terbebani oleh rahasia pribadiku.”

“Tinggal di kompleks perumahan elit, yang tetangganya pada cuek - cuek mau nggak?”

“Mau. Justru suasana cuek - cuekan gitu yang aku mau. Di mana perumahannya?”

“Di Jogja. Dekat bandara. Tapi harga rumah di sana hitungannya sudah milyar Tan. Enam milyar ke atas.”

“Gakpapa. Justru rumah seperti itu yang kuinginkan. Duapuluh milyar juga gakpapa, asalkan sesuai antara harga dengan kondisinya.”

“Sekarang sih keburu sore. Besok aja lihat - lihat rumah yang mau dijual di kompleks perumahan elit itu ya.”

“Kamu aja sendiri yang surveynya Bon. Kan rumah itu nantinya untuk kita berdua. Kalau kata kamu bagus, ya aku pun pasti menganggap bagus.”

“Tapi lebih enak lagi kalau Tante ikut melihatnya besok.”

“Gak usah Sayang. Aku ingin kamu mengurus semua keperluanku. Pokoknya semua dana simpananku itu akan kuserahkan padamu untuk mengelolanya.”

Ternyata Tante Tari sudah sangat percaya padaku. Sehingga dana sebesar itu pun mau diserahkan padaku untuk mengelolanya.

Pantaslah Mamie berkeras agar bisa merebut hati Tante Tari. Kalau ketemu lelaki yang gak bener, bisa dikuras habis nanti duitnya.

“Ya sudah, kalau Tante akan mempercayakannya semua padaku, nanti smeuanya aku yang ngurus. Tante duduk manis aja.”

“Naaah… itu yang aku mau Sayaaang… “Tante Tari mengusap - usap rambutku dengan lembut, “Pokoknya segala urusan pribadiku akan kuserahkan padamu semua.”

“Tapi kalau harga rumah itu sudah cocok, Tante kan harus menandatangani akte jual belinya di notaris nanti.”

“Kamu aja yang tandatangani. Rumah itu memang untukmu kok.”

“Haaa?!”

“Kenapa seperti kaget? Rumah itu atas namamu nanti. Jadi kalau aku tinggal di sana, aku seolah - olah tinggal di rumah suamiku sendiri.”

Aku cuma nyengir kuda. Tak tahu apa yang harus kukatakan.

“Itu sebagai tanda keseriusan cintaku aja Bon. Kalau aku tidak serius menincintaimu, mana mungkin kuserahkan puki eeeh… memekku padamu?”

“Iya Tante. Mudah - mudahan aja hubungan kita baik terus ya.”

“Nanti aku akan melakukan RTGS, untuk memindahkan dana dari bank - bank aku ke bank kamu.”

“Sekarang sih udah gak zaman RTGS Tante. Ada yang jauh lebih praktis. Tanpa disulitkan oleh PPATK dan sebagainya.”

“Ya udah. Pakai aja caramu. Yang penting dana dari rekeningku pindahkan ke rekeningmu. Aku sih gak kuatoir - kuatir amat. Mantan suamiku tiap bulan juga transfer nanti. Begitu perjanjiannya sebelum kami bercerai.”

“Kata Mamie, Tante diteror terus oleh istri pertamanya ya?”

“Iya. Soalnya modal awal yang dipakai oleh mantan suamiku adalah duit istri pertamanya. Tapi sebenarnya perusahaan tambangnya itu maju pesat setelah aku dijadikan istri mudanya. Aaaah… sudahlah. Gak perlu ngomongin dia lagi. Suka jengkel jadinya.”

Mendengar hal itu aku pun mengalihkan topik pembicaraan,” Kata Mamie, ibu Tante masih ada ya?”

“Masih ada. Masih seger kok. Usianya kan lebih muda daripada mamiemu.”

“Ohya? Mmm… berarti beliau itu ibu tiri mamie ya?”

“Iya. Tapi ibuku sih gak beda - bredain anak tiri dengan anak kandung.”

“Tinggal di mana dia sekarang?”

“Di Semarang.”

“Setelah kakek meninggal, ibu Tante nikah lagi nggak? Kan masih muda.”

“Nggak mau nikah lagi. Soalnya waktu kakekmu masih ada, dia sangat dimanjakan sama Kakek. Makanya setelah kakekmu meninggal, dia gak mau nikah lagi. Takut gak disayang seperti sama Kakek lagi katanya.”

“Tante juga dimanjakan oleh mantan suami waktu masih di Kalimantan ya.”

“Sangat sangat dimanjakan. Tapi aku merasa hidup dalam kepalsuan. Karena sebenarnya aku tidak mencintainya. Cuma merasa kasihan aja, karena dia sudah habis - habisan untuk memanjakanku. Tapi sudah ah… jangan bahas dia lagi.”

Setibanya di Jogja, kuantar Tante Tari belanja gaun - gaun batik yang katanya sih bagus - bagus. Sementara aku belum bisa membedakan mana batik yang kualitasnya bagus atau tidak. Di mataku batik itu sama saja bagusnya.

Setelah mendapatkan gaun - ghaun batik yang diinginkannya, Tante Tari mengajakku makan malam dulu, karena hari memang sudah jam delapan malam.

Pada saat makan malam itulah aku membuka sesuatu yang ingin kukatakan sejak di villa kayu tadi.

“Tante… aku mau menceritakan suatu rahasia, tapi aku minta Tante janji dulu… janji takkan marah,” kataku.

Tante Tari menatapku dengan sorot menyelidik. Lalu bertanya, “Rahasia soal apa? Sudah punya cewek ya? Nggak… aku takkan marah. Yang penting kamu harus selalu mendampingiku setelah beli rumah nanti.”

“Begini… sebelum berjumpa dengan Mamie, aku kos di rumah Tante Artini.”

“Ohya? Terus di situ kamu punya cewek?”

“Jangan potong dulu dong Tanteku Sayang,” ucapku sambil meremas tangan Tante Tari yang tergeletak di atas meja. “Tante pasti sudah tau bahwa Tante Artini itu pernah menikah dengan lelaki yang dijodohkan oleh almarhum Kakek. Tapi ternyata lelaki itu seorang gay. Kemudian Tante Artini minta cerai. Dan dia menjadi seorang janda dalam keadaan masih perawan.

“Sampai sekarang kamu maih punya hubungan dengan Mbak Ar?”

“Masih Tante. Nah… aku sudah bicara jujur pada Tante. Karena aku tak mau menyembunyikan masalah pribadiku sedikit pun.”

Tante Tari tercenung sejenak. Lalu wajahnya mendadak jadi ceria, seolah menemukan ilham bagus di benaknya. Lalu berkata, “Nggak apa. Aku malah jadi punya teman senasib dan serahasia. Nanti Mbak Ar akan kuajak pindah ke rumah yang akan dibeli itu. Jadi kalau aku hamil, aku punya teman. Hihihiii… biar cepat selesai, sekarang kita ke rumah dia aja yuk.

Aku senang sekali melihat keceriaan Tante Tari itu. Tapi entah bagaimana sikap Tante Artini kalau sudah buka - bukaan dengannya nanti. Mudah - mudahan Tante Artini menerima kenyataan itu dengan “berbesar hati” seperti Tante Tari.

Maka setelah keluar dari rumah makan itu aku arahkan mobilku menuju rumah Tante Artini.

“Tante Ar nasibnya tidak sebaik Tante Tari,” ucapku di belakang setir, “Tante Tari kan jadi janda juga punya dana sedemikian gedenya di bank - bank. Sedangkan Tante Ar, punya rumah kos juga dimodali oleh Mamie.”

“Iya… kasian juga sih Mbak Ar itu. Jadi setelah menjadi janda dia masih tetap perawan?”

“Iya. Kan mantan suaminya gak suka perempuan.”

“Beruntung dong kamu bisa dapetin keperawanan Mbak Ar… hihihiii… kebayang…”

“Iya… jadi janda di usia tigapuluh tahun, masih perawan pula.”

Tante Artini terkejut melihat kedatanganku bersama adik bungsunya. Sementara untuk membuka masalah itu kuserahkan kepada Tante Tari. Karena lidahku terasa kelu untuk menyampaikannya.

Tapi aku merasa beruntung… karena setelah Tante Tari membuka semuanya, Tante Artini tidak kelihatan marah sedikit pun. Dia malah menciumi pipi Tante Tari lalu berkata, “Berarti kita bakal punya teman kalau salah seorang di antara kita hamil nanti ya.”

“Kalau dua - duanya hamil bareng gimana?” tanyaku sambil mencium pipi Tante Artini, lalu mencium pipi Tante Tari juga.

“Biarin aja,” sahut Tante Tari, “kan ada Bona tercinta. Iiiih… aku jadi horny lagi nih…”

“Ya udah… di sini aja mainnya. Kan istanamu baru mau dibeli,” sahut Tante Artini sambil mencium pipi Tante Tari lagi.

Lalu kami bertiga ketawa cekikikan sambil melangkah ke dalam kamar tante Artini…



Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)